Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Sejarah Desa Trunyan’

Mengetahui sejarah Desa Trunyan sulit sekali. Hal ini disebabkan, karena peninggalan yang berupa tulisan hanya berupa beberapa prasasti, yang kini disimpan di pelinggih Ratu Sakti Meduwe Raja, yang terletak di dlm kuil utama Bali Desa Pancering Jagad Bali, yaitu di kompleks Pelinggih Maospahit. Benda-benda sumber sejarah ini bagi penduduk Desa Trunyan telah dianggap sebagai lambang suci Dewa Ratu Sakti Meduwe Raja, panitera dewa tertinggi  Trunyan, maka tidak dapat diabadikan dengan alat potret untuk diteliti.  Ternyata isi dari prasasti itu  sangat ringkas dan hanya merupakan piagam yang dikeluarkan oleh suatu kerajaan, yang berupa surat-surat keputusan  atau untuk memperingati penganugerahan suatu desa sebagai sima yaitu suatu desa yang memperoleh hak sebagai desa perdikan. Karena di tempat itu ada suatu bangunan suci (Buchari, 1965:50, dan van der Tuuk,1897-1912,III : 318)

Prasasti Trunyan AI misalnya hanya merupakan piagam yang dikeluarkan oleh Keraton Singha Mandawa, untuk memberi izin kepada pemerintah desa di Trunyan untuk membangun kuil bagi Bhatara Datonta (Dewa tertinggi Trunyan yang kini disebut Ratu Sakti Pancering Jagat). Penduduk desa diwajibkan memelihara kuil tersebut, dan sebagai imbalannya mereka dibebaskan dari beberapa macam pajak (Goris, 1954, II : 122-124). Prasasti Trunya AII merupakan kelanjutan dari Prasasti A I, dan merupakan pengesahan kembali oleh Anank Wungcu pada tahun caka 971 terhadap prasasti Trunya AI yang dikeluarkan pada tahun caka 833 (Goris, 1954, I : 18).

Ada juga Prasasti Trunyan B tentang mengatur kedudukan hukum penduduk Air Rawang, yang mendiami daerah desa Trunyan, mereka diwajibkan pada setiap bulan Bhadrawada untuk turut serta dalam upacara keagamaan dewa tertinggi .

Dengan adanya keterbatasan sumber, maka sumber sejarah yang tidak tertulis juga sangat dibutuhkan yaitu berupa foklor Trunyan, terutama dari bentuk cerita prosa rakyat seperti mite dan legenda dan juga anggapan rakyat. Ini juga bisa digunakan jika dilengkapi lagi kebenarannya dengan bahan dari bentuk foklor lain seperti kepercayaan rakyat, arsitektur rakyat, dll. Alasannya,,,,bahwa semua sumber ini mempunyai beberapa sifat yang kurang dapat dipertanggungjawabkan jika hendak dijadikan sebagai satu-satunya bahan sejarah.

:)

ini yang paling kita nanti-nantikan,,,,di sini ada 11 cerita prosa rakyat (satu mite dan sepuluh legenda). ini telah dikumpulkan lewat informan orang Trunyan asli. simak baik-baik yaaaaa……………!!!!!!!!

1. Mite tentang Dewi Yang Turun Dari Langit

2. Legenda Tentang Anak-Anak Dalem Solo Yang Mengembara Mencari Sumber Bau Harum

3. Legenda Mengenai Pasek Trunyan Yang Menyelewengkan Gamelan Pemberian Dalam Solo

4. Legenda Mengenai Ditemukannya Patung Ratu Sakti Pancering Jagat

5. Legenda Mengenai Putri Betara Kehen Yang Diperistrikan Ratu Sakti Pancering Jagat

6. Legenda Kebo Iwa Membantu Orang Trunyan Membuat Jalan Batu Gede

7. Legenda Panji Sakti Menyerang Trunyan

8. Legenda Mengenai Prasasti Trunyan Yang Digelapkan Orang Desa Batur

9. Anggapan Bahwa Desa-Desa Bintang Danu dan Lain-Lain Adalah Banua Desa Trunyan

10. Legenda Mengenai Betara Desa Landih Adalah Putra Ratu Sakti  Pancering Jagat

11. Legenda Mengenai Desa Bunut dikalahkan Panji Sakti

( tunggu ceritanya yaaa,,,,,,:)  )

Desa Trunyan

Desa Trunyan terletak di dalam satu kepundan gunung berapi purba, yang telah meletus beberapa ribu tahun yang lalu. gunung berapi itu ialah Gunung Batur Purba. Sebagian dari lubang kepundan itu kemudian terisi dengan air, sehingga kini telah berubah menjadi danau yang indah sekali bernama danau Batur. Di sebelah Barat kepundan tersebut, kemudian tumbuh anak gunung berapi setinggi 1717 meter, yang kini terkenal dengan nama Gunung Batur.
Letak desa ini agak terpencil, sehingga untuk mencapainya harus ditempuh jalan darat maupun air.

Sekelompok mahasiswa Undiksha Jurusan Pendidikan Sejarah ketika itu sedang mengerjakan tugas mata kuliah sejarah lokal, tugas dikerjakan oleh kelompok yang terdiri dari 10 orang, namun dalam pengumpulannya individu. Semua data diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber Perbekel Desa Trunyan dan beberapa masyarakat-masyarakat asli dari Trunyan. Selain itu, data diperoleh dari Bukunya Dr. James Danandjaja yang berjudul “Kebudayaan Petani Desa Trunyan di Bali”.