Arsip untuk ‘Metode-metode pembelajaran sejarah’ Kategori

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.  Proses pembelajaran merupakan tahapan-tahapan yang dilalui dalam mengembangkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik seseorang, dalam hal ini adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa atau peserta didik.

Dunia pendidikan yang tidak terlepas dari kata “pengajaran” adalah dunia guru, rumah rehabilitasi anak didik. Dengan sengaja guru berupaya mengerahkan tenaga dan pikiran untuk mengeluarkan anak didik dari terali kebodohan. Sekolah sebagai tempat pengabdian adalah bingkai perjuangan guru dalam keluhuran akal budi untuk mewariskan nilai-nilai dan mentransportasikan multinorma keselamatan duniawi dan ukhrawi kepada anak didik agar menjadi manusia yang berakhlak mulia, cerdas, kreatif, dan mandiri, berguna bagi pembangunan bangsa dan negara di masa mendatang.

Guru memegang peranan penting dalam hal pendidikan, demikian halnya dalam kemajuan IPTEK dan perkembangan global. Eksistensi guru tetap penting, karena peran guru tidak seluruhnya dapat digantikan dengan teknologi. Meskipun demikian, kriteria guru juga sangat penting dalam pengajaran, karena dalam kenyataannya tidak semua guru penting, bahkan banyak guru yang menyesatkan perkembangan dan masa depan anak bangsa.  Pentingnya guru bergantung kepada guru itu sendiri. Sedikitnya terdapat tiga kata yang dapat menjadikan seorang guru penting, tidak saja dalam pembelajaran di kelas, tetapi dalam kehidupan di masyarakat. Tiga kata tersebut sekaligus menjadi sifat dan karakteristik guru, yaitu kreatif, professional dan menyenangkan.

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, tentunya seorang guru mempersiapkan perencanaan pembelajaran melalui RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran) dengan menggunakan beberapa metode yang disesuaikan dengan kondisi yang ada. Secara umum, perencanaan adalah menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Menurut William H. Newman, “ Perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan yang mengandung rangkaian-rangkaian putusan yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari”. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa perencanaan pembelajaran yang mesti dipersiapkan oleh seorang guru sangat vital dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Sehingga dengan demikian, di dalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efesien, mengenakan pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya disebut metode mengajar. Metode mengajar adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh guru atau instruktur. Dalam pengertian lain metode adalah teknik penyajian yang digunakan oleh guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami dan digunakan oleh siswa dengan baik.

Terkait dengan metode pengajaran dalam hal ini penulis lebih mengkhusus pada pembelajaran sejarah, beberapa pakar pendidikan sejarah maupun sejarawan memberikan pendapat tentang fenomena pembelajaran sejarah yang terjadi di Indonesia diantaranya masalah model pembelajaran sejarah, kurikulum sejarah, masalah materi dan buku ajar atau buku teks, profesionalisme guru sejarah dan lain sebagainya.

Menurut Hamid Hasan dalam Alfian (2007) bahwa kenyataan yang ada sekarang, pembelajaran sejarah jauh dari harapan untuk memungkinkan anak melihat relevansinya dengan kehidupan masa kini dan masa depan. Mulai dari jenjang SD hingga SMA, pembelajaran sejarah cenderung hanya memanfaatkan fakta sejarah sebagai materi utama. Tidak aneh bila pendidikan sejarah terasa kering, tidak menarik, dan tidak memberi kesempatan kepada anak didik untuk belajar menggali makna dari sebuah peristiwa sejarah. Jadi, salah satu masalah dalam pembelajaran sejarah yakni mengenai metode pengajaran. Sebenarnya banyak metode yang bisa digunakan oleh guru untuk meningkatkan semangat siswa diantaranya metode ceramah, demontrasi, diskusi, sosiodrama, eksperimen, karya wisata, dan lain-lain.

Metode karya wisata adalah salah satu metode yang juga cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran sejarah yang merupakan metode pengajaran yang lakukan dengan jalan mengajak anak-anak keluar kelas untuk dapat memperlihatkan hal-hal atau peristiwa yang ada hubungannya dengan bahan pelajaran. Pada kesempatan ini, penulis akan memaparkan metode karya wisata dalam pembelajaran sejarah secara mengkhusus.

1.2  Rumusan Masalah

1.2.1        Apa itu metode karya wisata ?

1.2.2        Bagaimana langkah-langkah metode karya wisata (field trip)?

1.2.3        Apa saja kelebihan dan kelemahan metode karya wisata ?

1.2.4        Bagaimana implementasi metode karya wisata dalam pembelajaran sejarah ?

1.2.5        Bagaimana langkah-langkah kombinasi metode ceramah, karya wisata, dan penugasan dalam pembelajaran sejarah ?

1.3  Tujuan

1.3.1        Untuk mengetahui metode karya wisata.

1.3.2        Untuk mengetahui langkah-langkah metode karya wisata (field trip).

1.3.3        Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan metode karya.

1.3.4        Untuk mengetahui penerapan metode karya wisata dalam pembelajaran sejarah.

1.3.5        Untuk mengetahui langkah-langkah kombinasi metode ceramah, karya wisata, dan penugasan dalam pembelajaran sejarah.

                                                      BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian

            Karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri, berbeda dengan karyawisata dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar. Karyawisata dapat dikatakan sebagai kegiatan perjalanan atau kunjungan lapangan adalah suatu perjalanan oleh sekelompok orang ke tempat yang jauh dari lingkungan normal. Tujuan perjalanan biasanya pengamatan untuk pendidikan, non-eksperimental penelitian atau untuk memberikan pengalaman siswa di luar kegiatan sehari-hari mereka.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengamati subjek dalam keadaan alami dan mungkin mengumpulkan sampel. Dalam budaya Barat orang pertama menemukan metode ini selama bertahun-tahun sekolah ketika kelas sekolah diambil pada perjalanan untuk mengunjungi geologis atau geografis fitur lanskap, misalnya. Sebagian besar penelitian awal ke dalam ilmu-ilmu alam adalah formulir ini. Charles Darwin merupakan contoh penting dari seseorang yang telah berkontribusi untuk ilmu pengetahuan melalui penggunaan metode karya wisata (field trip). Untuk mengurangi resiko dan pengeluaran tersebut, sebagian besar sistem sekolah sekarang memiliki prosedur kunjungan resmi yang menganggap seluruh perjalanan dari estimasi, persetujuan dan penjadwalan melalui perencanaan perjalanan yang sebenarnya dan pasca-kegiatan perjalanan.

Karya wisata bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajarannya dengan melihat kenyataannya. Karena itu dikatakan teknik karya wisata, ialah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada,  museum, temapat-tempat bersejarah dan sebagainya.

Metode karya wisata akan dapat di pergunakan,

  1. Apabila pelajaran yang dimaksudkan untuk memberi pengertian lebih jelas dengan alat peraga langsung.
  2. Apabila akan membangkitkan penghargaan dan cinta terhadap lingkungan dan tanah air, dan menghargai ciptaan Tuhan.
  3. Apabila akan mendorong anak mengenal lingkungan dengan baik.

Saran-saran pelaksanaannya antara lain:

  • Hendaknya tujuan pelajaran dirumuskan dengan jela, sehingga kelihatan wajar tidaknya metode ini di pergunakan.
  • Hendaknya diselidiki terlebih dahulu objek yang akan dituju dengan memperhatikan hal-hal yang sekiranya akan menjadi kesulitan.
  • Hendaknya dijelaskan terlebih dahulu tujuan metode karya wisaya dan disiapkan pertanyaan-pertanyaan yang harus mereka jawab.

Teknik karya wisata ini digunakan karena memiliki tujuan sebagai berikut:

  1. Dengan melaksanakan karya wisata diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari obyek yang dilihatnya.
  2. Dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang,
  3. Dapat bertanya jawab mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya dalam pelajaran, ataupun pengetahuan umum,
  4. Bisa melihat, mendengar, meneliti dan mencoba apa yang dihadapinya, agar nantinya dapat mengambil kesimpulan, dan sekaligus dalam waktu yang sama ia bisa mempelajari beberapa mata pelajaran.

2.2 Langkah-langkah metode karya wisata (Field Trip)

Agar penggunaan teknik karya wisata dapat efektif, maka pelaksanaannya perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Masa persiapan guru perlu menetapkan:

-          Perumusan tujuan instruksional yang jelas.

-          Pertimbangkan pemilihan teknik itu.

-          Keperluan menghubungi pemimpin obyek yang akan dikunjungi, untuk merundingkan segala sesuatunya.

-          Penyusunan perencanaan yang masak, membagi tugas-tugas dan menyiapkan sarana.

-          Pembagian siswa dalam kelompok, mengirim utusan.

  1. Masa pelaksanaan karya wisata:

-          Pemimpin rombongan mengatur segalanya dibantu petugas-petugas lainnya.

-          Memenuhi tata tertib yang telah ditentukan bersama.

-          Mengawasi petugas-petugas pada setiap seksi dan juga tugas-tugas kelompok sesuai dengan tanggung jawabnya.

-          Memberi petunjuk bila dipandang perlu.

  1. Masa kembali dari karya wisata:

-          Mengadakan diskusi mengenai segala hal hasil dari karya wisata itu.

-          Menyusun laporan, paper atau kesimpulan yang diperoleh.

-          Tindak lanjut dari hasil kegiatan karya wisata seperti; membuat grafik, gambar, model-model, diagram, alat-alat lain dan sebagainya.

2.3 Keunggulan dan Kelemahan Metode Karya Wisata

            a. Keunggulan

Metode karya wisata dapat disimpulkan memiliki keunggulan sebagai berikut:

  1. Karyawisata memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
  2. Siswa dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para petugas pada obyek karya wisata itu, serta mengalami dan menghayati langsung apa pekerjaan mereka. Hal mana tidak mungkin diperoleh di sekolah; sehingga kesempatan tersebut dapat mengembangkan bakat khusus atau keterampilan mereka.
  3. Siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas secara individu maupun secara kelompok dan dihayati secara langsung yang akan memperdalam dan memperluas pengalaman mereka.
  4. Dalam kesempatan ini, siswa dapat bertanya jawab, menemukan sumber informasi yang pertama untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapinya, sehingga mungkin mereka menemukan bukti kebenaran teorinya, atau mencobakan teorinya ke dalam praktek.
  5. Dengan obyek yang ditinjau itu siswa dapat memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan pengalaman yang terintegrasi, yang tidak terpisah-pisah dan terpadu.

b. Kelemahan

Dalam penggunaan metode ini masih juga ada keterbatasan yang perlu diperhatikan atau di atasi agar pelaksanaan teknik ini dapat berhasil guna dan berdaya guna. Kelemahan dari metode ini, antara lain:

  1. Fasilitas yang diperlukan dan biaya yang diperlukan sulit untuk disediakan oleh siswa atau sekolah.
  2. Sangat memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang.
  3. Memerlukan koordinasi dengan guru-guru bidang studi lain agar tidak terjadi tumpang tindih waktu dan kegiatan selama karya wisata.
  4. Dalam karya wisata sering unsur rekreasi menjadi lebih prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya menjadi terabaikan.
  5. Sulit mengatur siswa yang banyak dalam perjalanan dan mengarahkan mereka kepada kegiatan studi yang menjadi permasalahan, sehingga perlu dijelaskan adanya aturan yang berlaku khusus di proyek ataupun hal-hal yang berbahaya.
  6. Bila tempatnya jauh perlu memikirkan segi keamanan, kemampuan phisik siswa untuk menempuh jarak tersebut.

2.4 Implementasi Metode Karya Wisata Dalam Pembelajaran Sejarah

          Dalam pengimplementasian metode karya wisata dalam pembelajaran sejarah ini, tidak terlepas dari suatu perencanaan yakni melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Berikut ini salah satu contoh RPP dengan menggunakan metode karyawisata.

 

            RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

SMA/MA.                               : SMA Negeri 1 Jembrana

Mata Pelajaran                        : Sejarah

Kelas/Semester                        : X/1

Standar Kompetensi               : 1.  Memahami Prinsip Dasar Ilmu Sejarah

Kompetensi Dasar                   : 1.2. Mendeskripsikan Tradisi Sejarah dalam Masyarakat

Indonesia Masa Praaksara dan Masa Aksara

Indikator                                 : – Mendeskripsikan cara masyarakat masa prasejarah

mewariskan masa lalunya

-    Menyebutkan ciri-ciri tradisi lisan

-    Mengidentifikasi tradisi masyarakat masa prasejarah

Alokasi Waktu                        : 2 x 45 menit

 

  1. Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu untuk:

  • Dengan karyawisata siswa dapat mendeskripsikan cara masyarakat masa prasejarah mewariskan masa lalunya
  • Dengan karyawisata siswa dapat menyebutkan ciri-ciri tradisi lisan
  • Dengan karyawisata siswa dapat mengidentifikasi tradisi masyarakat masa prasejarah pada sistem kepercayaan, mata pencaharian, kemasyarakatan, budaya dan seni, dan pengetahuan
  1. Materi Pembelajaran
  2. Metode Pembelajaran
  • Cara masyarakat masa prasejarah mewariskan masa lalunya
  • Tradisi lisan
  • Tradisi masyarakat masa prasejarah pada sistem kepercayaan, mata pencaharian, kemasyarakatan, budaya dan seni, dan pengetahuan

Metode Ceramah, Karyawisata, Diskusi dan Penugasan

  1. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama

  1. Kegiatan Pendahuluan
  • Guru menyiapkan peserta didik yang akan pergi karya wisata
  • Guru menghitung jumlah siswa sebelum masuk bis dan menghitung kembali di dalam bis.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dengan metode karya wisata ini dan menyampaikan kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan ketika observasi berlangsung.
  • Guru menjelaskan kembali bahwa obyek karyawisata mereka adalah Museum Gilimanuk
  1. Kegiatan Inti
  • Guru menjelaskan sedikit materi mengenai cara masyarakat masa prasejarah mewariskan masa lalunya dengan secara langsung ditunjukkan bukti-bukti yang sudah ada di museum.
  • Guru menerangkan dengan singkat mengenai unsur-unsur tradisi dan sistem kebudayaan manusia dan membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok.
  • Siswa melakukan observasi dan mencatat segala sesuatu yang ditemukan di dalam museum.
  • Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, baik kepada petugas museum maupun kepada guru itu sendiri.
  • Kelompok melakukan unjuk kerja dalam diskusi intern di dalam museum secara kelompok mengenai kebenaran teori yang diperoleh dari beberapa buku materi (tradisi masyarakat masa prasejarah) dengan mengaitkan hasil dari observasi (kenyataan yang ada; benda-benda yang bersejarah di museum).
  1. Kegiatan Penutup
  • Refleksi

-   Guru memberikan kesimpulan tentang hasil diskusi yang dilaksanakan di dalam museum.

  • Evaluasi

-       Kognitif yaitu guru memberikan tugas membuat resume hasil observasi kepada masing-masing kelompok

-       Afektif yaitu melalui keseriusan melakukan observasi dan diskusi intern.

  1. Sumber Belajar
  2. Penilaian
  • Kurikulum KTSP dan perangkatnya
  • Pedoman Khusus Pengembangan Silabus KTSP SMA -
  • Buku sumber Sejarah SMA –
  • Peta konsep
  • Buku-buku penunjang yang relevan
  • Internet
  • Unjuk kerja dalam bentuk diskusi mengenai tradisi masyarakat masa prasejarah
  • Portofolio dalam bentuk uraian analisis mengenai tradisi bercerita di daerahnya.

Lembar Penilaian Diskusi

Hari/Tanggal   : …………………………………………………….

Topik diskusi/debat     : ……………………………………………………..

No Sikap/Aspek yang dinilai Nama Kelompok/ Nama peserta didik Nilai Kualitatif Nilai Kuantitatif
Penilaian kelompok
1. Menyelesaikan tugas kelompok dengan baik      
2 Kerjasama kelompok      
3 Hasil tugas      
Jumlah Nilai Kelompok    
Penilaian Individu Peserta didik
1. Berani mengemukakan pendapat      
2. Berani menjawab pertanyaan      
3. Inisiatif      
4. Ketelitian      
Jumlah Nilai Individu    

Format Penilaian Portofolio

Indikator Nilai Kualitatif Nilai Kuantitatif Deskripsi
Pengantar

 

      Menunjukkan dengan tepat isi karangan/laporan penelitian, kesimpulan maupun rangkuman. Untuk peta, skema, dan lukisan, mempersiapkan bahan-bahan.
Isi

 

      Kesesuaian antara judul dengan isi dan materi. Menguraikan hasil karangan/laporan penelitian, kesimpulan, dan rangkuman dengan tepat. Menjabarkan peta dan skema sesuai dengan tema yang diajukan. Melukis sesuai dengan wujud benda yang telah ditentukan.
Penutup       Memberikan kesimpulan karangan/hasil penelitian
Struktur/logika penulisan       Penggambaran dengan jelas metode yang dipakai dalam karangan/penelitian
Orisinalitas karangan       Karangan/penelitian, kesimpulan, rangkuman, peta, skema, dan lukisan merupakan hasil sendiri
Penyajian, bahasan dan bahasa       Bahasa yang digunakan sesuai EYD dan komunikatif
Jumlah        

Kriteria Penilaian :

Kriteria Indikator Nilai Kualitatif Nilai Kuantitatif
80-100 Memuaskan 4
70-79 Baik 3
60-69 Cukup 2
45-59 Kurang cukup 1

 

Mengetahui,                                                                            Jembrana, …………………..

Kepala Sekolah/Yayasan                                                        Guru Mata Pelajaran

 

 

…………………………..                                                        ………………………………….

NIP/NRK…………………..                                                         NIP/NRK…………………..

 

2.5 Langkah-Langkah Kombinasi Metode Ceramah, Karya Wisata, dan Penugasan Dalam Pembelajaran Sejarah

Dalam prakteknya, metode mengajar tidak digunakan sendiri-sendiri, tetapi merupakan kombinasi dari beberapa metode mengajar. Ada beberapa kombinasi yang ada dan sudah sering para pendidik praktekkan, misalnya kombinasi antara metode ceramah, tanya jawab, dan tugas, kombinasi metode ceramah, diskusi, dan tugas, kombinasi metode ceramah, demonstrasi, dan eksperimen, kombinasi metode ceramah, sosiodrama, dan diskusi, kombinasi metode ceramah, problem solving dan tugas, kombinasi metode ceramah, demontrasi, dan latihan, ada juga kombinasi metode ceramah, karya wisata, dan penugasan, dan masih banyak lagi kombinasi-kombinasi dari beberapa metode lainnya. Hal ini tidak lain bertujuan agar siswa tidak cepat bosan dalam menerima pelajaran. Dalam kesempatan ini, penulis khusus memaparkan tentang kombinasi metode ceramah, karya wisata, dan penugasan dalam pembelajaran sejarah. Berikut ini langkah-langkah kombinasi metode ceramah, karya wisata, dan penugasan.

 

No Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1. Persiapan
  1. Merumuskan tujuan maupun indikator dari pelaksanaan karya wisata agar sesuai dengan materi pelajaran sejarah yakni masa pergerakan nasional.
  2. Mempertimbangkan dan memilih obyek yang akan dikunjungi agar sesuai, tepat guna, dan benar-benar dapat memberikan hasil yang maksimal (misalnya, tempat-tempat bersejarah yang tidak terlalu jauh dari sekolah yang ada kaitannya dengan pergerakan nasional)
  3. Memberikan penjelasan secara singkat mengenai obyek yang akan dikunjungi.
  4. Menyepakati peraturan-peraturan selama proses karya wisata nanti agar tidak terjadi hal-hal yang negatif.
  5. Membagi siswa dalam bentuk kelompok kerja agar mudah dalam melakukan observasi.
  6. Mempersiapkan semua perlengkapan untuk berkaryawisata, salah satunya mempersiapkan alat transportasi.
2. Pelaksanaan
  1. Siswa melakukan observasi ke obyek yang sudah ditentukan. (Metode Karyawisata).
  2. Siswa mentaati peraturan yang sudah disepakati.
  3. Guru menjelaskan beberapa hal penting secara singkat kepada semua siswa mengenai beberapa benda-benda bersejarah yang unik dan menceritakan alur pergerakan nasional disertakan dengan bukti-bukti yang ada di museum. (Metode Ceramah).
  4. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, baik bertanya kepada petugas museum maupun kepada guru mata pelajaran yang mendampingi.
  5. Sesekali guru mengingatkan kepada siswa agar fokus pada tujuan karya wisata.
Evaluasi/tindak lanjut
  1. 1.      Menugaskan setiap siswa untuk membuat hasil observasi atau bisa juga kesimpulan dari observasi yang dilakukan melalui paper/makalah. (metode penugasan)
  2. 2.      Pengumpulan tugas (paper/makalah)

 

BAB III

PENUTUP

3.1  Simpulan

Metodekarya wisata, ialah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau obyek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada,  museum, temapat-tempat bersejarah dan sebagainya

Keunggulan metode karya wisata antara lain: karyawisata memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran, siswa dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para petugas pada obyek karya wisata itu, serta mengalami dan menghayati langsung apa pekerjaan mereka. Hal mana tidak mungkin diperoleh di sekolah; sehingga kesempatan tersebut dapat mengembangkan bakat khusus atau keterampilan mereka, siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas secara individu maupun secara kelompok dan dihayati secara langsung yang akan memperdalam dan memperluas pengalaman mereka.Dalam kesempatan ini, siswa dapat bertanya jawab, menemukan sumber informasi yang pertama untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapinya, sehingga mungkin mereka menemukan bukti kebenaran teorinya, atau mencobakan teorinya ke dalam praktek.

Kelemahan dari metode ini, antara lain: fasilitas yang diperlukan dan biaya yang diperlukan sulit untuk disediakan oleh siswa atau sekolah, sangat memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang, memerlukan koordinasi dengan guru-guru bidang studi lain agar tidak terjadi tumpang tindih waktu dan kegiatan selama karya wisata, dalam karya wisata sering unsur rekreasi menjadi lebih prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya menjadi terabaikan, sulit mengatur siswa yang banyak dalam perjalanan dan mengarahkan mereka kepada kegiatan studi yang menjadi permasalahan, sehingga perlu dijelaskan adanya aturan yang berlaku khusus di proyek ataupun hal-hal yang berbahaya, dan bila tempatnya jauh perlu memikirkan segi keamanan, kemampuan phisik siswa untuk menempuh jarak tersebut.

Dalam prakteknya, metode mengajar tidak digunakan sendiri-sendiri, tetapi merupakan kombinasi dari beberapa metode mengajar. Ada beberapa kombinasi yang ada dan sudah sering para pendidik praktekkan, misalnya kombinasi antara metode ceramah, tanya jawab, dan tugas, kombinasi metode ceramah, diskusi, dan tugas, kombinasi metode ceramah, demonstrasi, dan eksperimen, kombinasi metode ceramah, sosiodrama, dan diskusi, kombinasi metode ceramah, problem solving dan tugas, kombinasi metode ceramah, demontrasi, dan latihan, ada juga kombinasi metode ceramah, karya wisata, dan penugasan, dan masih banyak lagi kombinasi-kombinasi dari beberapa metode lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didik.Jakarta: Pt Rineka Cipta
  • Hasan, Hamid S. 2007. ‘Kurikulum Pendidikan Sejarah Berbasis Kompetensi’. Makalah. Disampaikan dalam Seminar Nasional Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se-Indonesia (IKAHIMSI). Universitas Negeri Semarang, Semarang, 16 April 2007
  • Jogyacamp. 2010. Pengertian dan Definisi pengajaran. http://carapedia.com/pengertian_definisi_pengajaran_info2347.html diunduh pada tanggal 11 Juni 2012
  • Majid, Abdul. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
  • Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
  • Roestiyah.2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. PT Rineka Cipta
  • Suciptoardi. 2009. Pembelajaran Sejarah: Permasalahan dan Solusinya. http://suciptoardi.wordpress.com/2009/07/28/pembelajaran-sejarah-permasalahan-dan-solusinya/ diunduh pada tanggal 11 Juni 2012
  • Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta