Sejarah digerakkan oleh banyak kekuatan, termasuk individu. Seorang dari individu itu adalah Jenderal (Besar) Soeharto. Selama tiga dasawarsa, sang jenderal yang murah senyum itu menjadi kekuatan membentuk dan mewarnai, sekaligus mengubah (perjalanan) sejarah republik ini.

Sejarah, kita tahu, tidak hanya hitam putih. Banyak warna. Berikut ini terdapat tulisan blog saya yang dikutip dari buku Asvi Warman Adam yang berjudul Soeharto file–Sisi Gelap Sejarah Indonesia, dengan penerbit “Ombak” yang merupakan buku cetakan revisi Maret 2006. Buku ini merupakan potret sisi gelap sejarah Indonesia, yang menempatkan Soeharto sebagai kekuatan penting dalam perputaran roda sejarah.

Sejarah adalah pertanggungjawaban dari masa silam. Tanpa melupakan “jasa” Soeharto selama berkuasa, ia juga diduga melakukan banyak pelanggaran HAM berat. “Pelanggaran HAM berat” ini merupakan sisi gelap yang harus dipertanggungjawabkan Soeharto di depanj hukum. Pada bukunya Asvi Warman Adam, mencatat bahwa ada sepuluh alasan untuk mengadili Soeharto.

Masa pemerintahan Soeharto (1966-1998) dapat dibagi atas tiga periode yang masing-masing terdiri dari sekitar satu dekade (batasnya sebetulnya tidak terlalu tegas). Masa tersebut terbagi atas masa awal, masa perkembangan/kejayaan, dan akhirnya masa penurunan/kejatuhan.

Sepuluh alasan mengadili Soeharto

Wacana untuk memulihkan nama baik Soeharto kembali disuarakan oleh Partai Golkar, pada saat rakyat semakin menderita karena persoalan ekonomi yang kian sulit. Seakan-akan mantan presiden yang berkuasa semasa Orde baru itu tidak menanggung kesalahan atas keterpurukan ekonomi yang terjadi belakangan ini. Dalam situasi demikian, tuntutan untuk mengadili Soeharto perlu diteriakkan lagi.

Pada bulan Januari 2003 Komnas HAM telah membentuk Tim Pengkajian Pelanggaran HAM Berat Soeharto. Tim itu telah menyelesaikan laporan bahwa Soeharto diduga terlibat dalam pelanggaran HAM selama ia berkuasa. Setelah tertunda sekian lama, masih penting dan relevan saat ini untuk mengadili mantan orang kuat Orde baru itu. Mengapa penting segera mengadili Soeharto ?

1. Sudah diperoleh berbagai indikasi tentang pelanggaran berat HAM yang dilakukan oleh Soeharto baik by commission maupun by omission.

2. Pengadilan akan membuktikan bahwa hukum itu tidak pandang bulu. Siapa saja termasuk Presiden bisa diadili. Bila terlaksana, hal ini merupakan angin segar bagi dunia hukum di tanah air yang masih dilanda kemarau yang berkepanjangan.

3. Proses hukum ini akan mendatangkan kebaikan bagi keluarga, masyarakat dan negara. Bila dalam persidangan, Soeharto dinyatakan tidak bersalah, namanya akan berkibar lagi di tengah masyarakat. Bila berbukti bersalah, sebaiknya ia diberi amnesti. Dengan demikian ia seharipun tidak akan menghuni sel penjara seperti halnya putranya Tommy Soeharto.

4. Dengan demikian masyarakat tidak berprasangka buruk kepadanya dan keluarganya. Dengan membiarkan kasus ini mengambang, ia akan dicap atau dipandang oleh masyarakat dengan tudingan yang belum tentu tepat seperti melakukan praktek KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme.) dan melanggar HAM. Perlu diakui bahwa ia telah melakukan pembangunan ekonomi secara fisik lebih maju daripada Presiden sebelumnya. Namun prestasinya ini—kalau boleh disebut demikian—diliputi awan mendung kejahatan kemanusian yang dilakukannya di masa pemerintahannya.

5. Bagi bangsa dan negara ini juga baik sekali bila kasus yang menimpa presiden pertama Soekarno tidak terulang lagi. Dulu dengan adanya TAP MPRS No XXXIII Thn 1967 Presiden Soekarno dikesankan membantu kudeta yang mencoba menggulingkan dirinya sendiri. Tentu hal ini tidak masuk akal. Tetapi bagi masyarakat kesannya bahwa ia terlibat dalam G30S. Seandainya Presiden Soekarno diadili tahun 1967, maka saya yakin ia akan dibebaskan karena tidak terbukti bersalah.
Bung Karno meninggal dalam kondisi mengenaskan karena tidak mendapatkan perawatan kesehatan sebagaimana mestinya. Sekarang keadaannya jauh lebih bagus, oeharto dengan uang sendiri atau dengan biaya negara mendapat pemeriksaan kesehatan dari dokter terbaik di negeri ini.

6. Untuk penulisan sejarah di sekolah, sebaiknya hal-hal yang kelam pada masa lalu dapat diungkapkan. Apakah betul mantan Presiden era Orde Baru yang memerintah lebih dari 30 tahun itu terlibat KKN atau melanggar HAM ?

7. Soeharto sudah berusia lebih dari 80 tahun. Usia ini sudah melampui usia rata-rata orang indonesia. Semuanya di tangan Tuhan. Namun sebaiknya kita—meminjam istilah Aa Gym–”Menggenapkan Ikhtiar” agar seceopatnya perkara itu diputuskan.

8. Soeharto masih sehat, ia masih sempat membezuk para bekas menterinya yang sakit seperti Sudharmono atau melayat bila ada mantan pembantunya yang meninggal.

9. Kini sudah ada fasilitas teleconference yang dapat dimanfaatkan. kalau harganya dianggap mahal, pengadilan dilakukan dirumah Soeharto di Cendana. Jaksa senior Djoko Moeljo pernah melakukan hal yang sama di daerah.

10. Orde Reformasi perlu memisahkan diri dan membedakan diri dengan Orde Baru. Caranya dengan memutuskan kesinambungan praktek korupsi dan pelanggaran HAM masa lalu diantaranya dengan mengadili para pelakunya terutama yang termasuk top level. 

 

Memutuskan kesinambungan praktek korupsi

Tidak akan bergejolak
Ada kalangan yang berpendapat bahwa bila dilakukan pengadilan HAM ad hoc terhadap Soeharto mungkin masyarakat akan resah atau terjadi konflik antara kelompok pendukung dan anti Soeharto. Ketakutan itu tidak perlu muncul bila alasan yang masuk akal disampaikan kepada masyarakat.

Pengadilan terhadap mantan Presiden Soeharto ini bukan arena balas dendam. Justru ini demi rasa keadilan jutaan korban yang telah melanggar haknya sebagai manusia selama ini. Siapa pun yang bersalah harus dihukum. Bila masih ada rasa dendam, masak tokoh seperti Ali Sadikin mengusulkan agar Soeharto diberi amnesti setelah diadili. Kalau masih dendam, tentu para korban rezim Orde Baru itu senang sekali bila Soeharto masuk bui, tetapi malah mereka menyarankan agar kepala negara memberikan pengampunan (seusai proses pengadilan).

Terserah kepada bangsa kita ini apakah kita akan mengulangi kesalahan terhadap Bung Karno tempo hari dengan membiarkan kasusnya Soeharto mengambang atau segera mengadilinnya. Ia sekarang sudah bisa kemana-mana termasuk ke Solo dan Nusakambangan. Ia bisa senyum dan berbiacara. Kalau enggan datang ke pengadilan bukankah sekarang sudah ada fasilitas telecoference , sehingga Soeharto bisa menjawab pertanyaan hakim dan jaksa sambil tiduran dirumahnya.

 

BERIKUT INI ADA YANG LEBIH MENARIK LAGI TENTANG SISI GELAP SEJARAH INDONESIA.

1. SOEHARTO DAN POLITIK TENTARA

A. Dari Testamen Politik Soekarno Sampai Supersemar

Keluarnya Supersemar dari Presiden Soekarno kepada Soeharto bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, namun ini berhubungan dengan Testamen Politik Soekarno tahun 1945 dan peristiwa 3 Juli 1946. Ada pula pengamat yg melihat Gerakan 30 September 1965 merupakan satu rangkaian dengan Supersemar.

…..tulisan berikutnya menyusul yaa,,,,,,,hehehehehe :)     :)

welcome to my blog….. ayoxx ,,,aq ajak kawan2 pecnta sejrah untuk merenungi apa sich sbenarnya arti dari sejrah perjuangan kmerdekaan itu ? simak baik2 ya……hehehe

Berbicara mengenai perjuangan kemerdekaan kita,,tentu tidak terlepas dari tujuan perjuangan,,naa…kalau tujuan perjuangan kemerdekaan kita hanyalah untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan Belanda, maka dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, tujuan perjuangan kemerdekaan tersebut mestinya sudah selesai bukan ?….

Namun tujuan perjuangan kemerdekaan Indonesia ternyta tidak hanya berhenti sampai di situ, ini terbukti dengan apa yang tercantum dalam Pembukaan maupun UUD 1945. Selain kita masih harus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita proklamasikan,,,,karena pada waktu itu Belanda masih ingin melanjutkan penjajahannya di Indonesia, kita juga masih harus tetap berjuang, bahkan terus menerus berjuang untuk mengisi kemerdekaan yang telah kita rebutdan kita pertahankan dengan banyak korban itu.

Sebagai mahkluk yang menyejarah, kita memang tidak dapat melepaskan diri dari keterlibatan kita dalam sejarah. Dan sebagai mahkluk yang memiliki kesadaran, seharusnyalah kita menggunakan kesadaran itu untuk menyadari eksistensi diri kita sendiri sebagai mahkluk yang menyejarah dan keterlibatan kita dalam sejarah. Dengan demikian kita telah memahami secara kritis dan kreatif mengenai arti sejarah. Mempelajari sejarah bukanlah semata-mata mempelajari masa lampau dan kemudian memisahkan masa lampu itu dengan masa kini dan masa yang akan datang. Melainkan mempelajari bagaimana relasi antara masa lampau, masa kini , dan masa yang akan datang itu. Hanya dengan sikap itulah kita akan dapat dengan terang melihat jalannya sejarah dan pertanda zaman.

sejarah identik dengan waktu dan ruang. Jadi, mempelajari sejarah—– merelasikan masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang,

Terkait dengan hal ini, maka pada buku “Laporan dari Banaran” terbitan ulang tahun 1980…yang isinya:

” Bangsa kita sedang terlibat dalam usaha raksasa pembangunan untuk menyonyongsong abad ke-21. Dengan berlandaskan Pancasila bangsa kita memberikan sumbangannya dalam upaya umat manusia  untuk membangun masyarakat internasional yang adil, partisipatif dan lestari.

Namun dalm membangun masa depan yang beru itu, baik secara pribadi maupun sebagai bangsa, masa lampau tetap bersama dengan kita. Ini berlaku secara khusus bagi sejarah perjuangan kemerdekaan nasional itu. Ada bahaya bahwa kenangan kenangan kepada masa lampau memenjarakan dan membekukan hati dan pemikiran kita, sehingga kita kurang mampu untuk mengembangkan gagasan dan pikiran-pikiran yang segar dalam menghadapi tantangan baru. 

Oleh sebab itu, kita harus selalu bersikap kritis dan kreatif terhadap masa lampau kita, baik secara pribadi maupun sebagai bangsa.”

      Tentu dapat dipertanyakan apakah kita memerlukan pemahaman yang kritis dan kreatif mengenai arti sejarah masa lampau itu untuk menjalankan masa kini dan masa yang akan datang.

   Bukankah tugas kita sekarang ini dan di waktu yang akan datang pembangunan yang dapat dijalankan secara rasional dan pragmatis tanpa mengutik-ngutik kejadian-kejadian masa lampau ?
bahkan mungkin ada yang menemukan bahwa justru negara-negara yang tidak banyak mempunyai sejarah perjuangan kemerdekaan, seperti misalnya negara tetangga kita Singapura, terbukti mampu mencapai hasil-hasil yang lebih besar dalam pembangunannya. Dengan perkataan lain, yang dipertanyakan adalah apakah sejarah perjuangan kemerdekaan di masa lampau itu tidak menjadi beban dalam mensukseskan tugas pembangunan sekarang ini dan di waktu yang akan datang.

Seperti telah dikemukakan tadi, maka jawab kita terhadap pertanyaan-pertanyaan ini adalah bahwa disadari atau tidak disadari, diakui atau tidak diakui, disukai atau tidak disukai, sejarah tetap bersama dengan kita. Pilihan kita hanya antara memahami pengaruh sejarah itu secara sadar atau membiarkannya mempengaruhi kita secara tidak sadar.
Hanya dengan merenungkan arti sejarah itu secara sadar kita dapat memanfaatkan pengaruhnya sebaik-baiknya secara positif, kritis dan kreatif sambil menetralisasikan sejauh mungkin pengaruh-pengaruhnya yang bersifat negatif.

Foto Pejuang Indonesia Yang sedang bertempur
sumber : http://indonesiaku.esc-creation.com

Refrensi :
Simatupang.1981.Arti Sejarah Perjuangan Kemerdekaan (Ceramah tgl 14 Okt 1980 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta). Jakarta: Yayasan Idayu

PENDAHULUAN

Lebih dari enam juta warga Yahudi dll yang tak terhitung jumlahnya di Eropa dihukum dan dibunuh secara sistematis oleh pemerintahan yang mendukung genosida antara 1933-1945. Sampai 1945, dua dari tiga warga Yahudi tewas karena kerja paksa, kelaparan, kondisi alam, peluru, api, gas beracun, pemukulan, dan tiang gantungan. Setiap warga Yahudi yang tinggal di Eropa menjadi sasaran pembantaian Nazi. Para pelaku yang melaksanakan pembunuhan ini adalah para ilmuwan, dokter, personel militer dan pemerintah, dan warga sipil biasa. Kejadian mengerikan ini dikenal sebagai HOLOCAUST.

Setelah PD I, Jerman yg kalah jatuh ke dalam depresi sosial dan ekonomi. Perjanjian Versailles oleh sekutu yang menang memaksa Jerman untuk membayar ganti rugi dan menerima kesalahan atas konflik yang terjadi. Akibatnya pengangguran melambung, inflasi membuat mata uang Jerman tidak berharga, dan sebuah pemerintah baru bernama Weimar Republik berjuan untuk mempertahankan demokrasi.

ADOLF HITLER, seorang kopral angkatan perang Jerman terkesan dengan Partai Sosial Rakyat Nasional (Nazi), saat ia disewa oleh militer Jerman untuk memata-matai pada 1919. Atas undangan mereka ia menjadi pemimpin partai Nazi. Hitler adalah seorang pembicara luar biasa yang meraih dukungan luas dari publik dengan pidato dan aksi panggung yang dramatis. Hitler secara resmi dipilih sebagai Kanselir-pemimpin Jerman-bulan januari 1933. Kamp konsentrasi pertama untuk para lawan politik dan komunis dibuka di Dachau dua bulan kemudian.

Hitler dan Korps serdadu Sturmabteilung (SA)-nya yang menakutkan (juga dikenal sebagai seragam cokelat) memanfaatkan rasa takut dan kekerasan untuk memanipulasi rakyat Jerman dan mengambil alih penuh pemerintahan. Lawan-lawan politik siapapun yang menentang rezim Nazi dibungkam oleh Konselir Jerman baru melalui polisi pelindungnya Schutzstaffel (SS), dan Geheime Staatzpolizei (GESTAPO-Polisi Negara Rahasia) dengan kekerasan ekstrem. Siapapun yang ditandai sebagai oposan atau musuh (komunis, sosialis, atau kepala persatuan buruh) dipenjara, dibawa ke kamp kerja paksa, dipukuli atau bahkan dibunuh. Republik Weimar telah mati dan Hitler memiliki kendali penuh.

Hitler adalah seorang rasialis jauh sebelum ia menjadi kanselir. Ia meyakini bahwa ada sebuah ras “unggul” berupa manusia berfisik sempurna, orang-orang ras murni yang disebut Aria, dan ia melihat kelompok ini sebagai masa depan Jerman dan seluruh Eropa. Rencananya untuk “memurnikan” Jerman menjadi bagian utama rencana Nazi. Hitler meyakini pentingnya membuka Lebensraum (ruang tinggal) untuk rakyat Aria di negara-negara Eropa. Untuk mencapai tujuannya, semua masyarakat yang dianggap berderajat rendah harus disingkirkan. Kalangan medis Jerman diikat oleh hukum untuk melakukan sterilisasi terhadap siapapun yang ditetapkan sebagai berderajat rendah, termasuk mereka yang cacat mental atau fisik, ber-ras ganda, dan minoritas etnis seperti orang-orang Roma, atau Gipsy. Sterilisasi ini menjadi jaminan Nazi agar warga “berderajat rendah” tidak dapat menghasilkan keturunan.

Hitler dan pemimpin Nazi lainnya menganggap ras Yahudi sebagai ancaman bagi masa depan Jerman. Lima ribu tahun antisemitisme telah menciptakan sebuah sejarah prasangka diskriminatif terhadap warga Yahudi. Perundangan Ras Nuremberg Hitler mendefinisikan warga yahudi bukan sebagai kelompok religius, tetapi sebagai ras “parasit” yang menggerogoti ras inang dan melemahkannya. Menurut Hitler, warga Yahudilah yang bertanggungjawab atas semua penderitaan masyarakat Jerman. Seperti di masa lalu, warga Yahudi menjadi kambing hitam di Jerman dan negara Eropa lainnya.

Diberlakukan perundangan Diskriminatif yang melarang warga Yahudi untuk memiliki usaha, berprofesi, memiliki properti, dan bahkan pergi ke sekolah umum. Setelah Jerman menguasai Polandia tahun 1939, memulai PD II, warga Yahudi dipaksa keluar dari rumahnya ke ghetto. Kondisinya menyedihkan; beberapa keluarga tinggal dalam satu ruang hanya dengan kebutuhan dasar untuk hidup. Anak-anak tidak dapat bersekolah, bersepeda, dan harus menyerahkan piaraan keluarganya. Semua harta benda miliknya harus diserahkan kepada Nazi. Banyak orang meninggal di ghetto karena penyakit dan kurang gizi. Karena perkampungan makin padat, warga yahudi dipindahkan dengan kereta ke kamp-kamp konsentrasi di eropa Timur.

Seiring berjalannya PD II, Wehrmacht-angkatan perang jerman_bergerak melintasi Eropa. Einsatzgruppen (pasukan pembunuh bergerak) mengikuti jallur mereka dan membantai perkampungan-perkampungan Yahudi dan menguburkan atau membakar jasad mereka secara massal. “Solusi Akhir” Hitler mulai bermunculan. Karena Einsatzgruppen bukanlah cara yang paling cepat efisien untuk membunuh maka Nazi merencanakan dan membangun kamp-kamp pemusnahan. Saat pasukan sekutu semakin mendekati para nazi, tahanan dibawa menuju “barisan kematian” sejauh beberapa ratus mil hanya untuk dibunuh sesampainya di kamp kematian.

Pada Januari 1945 gelombang pertama pasukan Rusia menemukan kamp-kamp itu. Kematian para tawanan terus berlajut walaupun kamp telah dibebaskan. mereka yang selamat memiliki tugas yang sulit dan memilukan dalam mencari keluarganya. Dengan hilangnya rumah, keluarga, dan kehidupan mereka, banyak yg tinggal di kamp-kamp penampungan sebelum berusaha melanjutkan kembali hidupnya. ini adalah kisah yang harus terus disampaikan dan harus di kenang……….!!!!

seru kannn…….????

Adolf Hitler lahir tahun 1889 di Braunau, Austria. Sebagai remaja dia merupakan seorang seniman gagal yang kapiran dan kadang-kadang dalam usia mudanya dia menjadi seorang nasionalis Jerman yang fanatik. Di masa Perang Dunia ke-I, dia masuk Angkatan Bersenjata Jerman, terluka dan peroleh dua medali untuk keberaniannya.

tunggu lagi sejarah yang lebih menarik………dijamin sobat gg akan bosen membaca dan jika ini bermanfaat,,,,,follow my blog yaaaaa,,,,,,,:)

SEJARAH AWAL —ASAL-USUL HOLOCAUST

Sebelum 1914, Jerman adalah kekuatan industri besar Eropa. Militernya dilengkapi dengan angkatan darat yang kuat dan angkatan laut yang gigih. Jerman mempunyai penulis, artis, dan komponis terkenal. Sistem sekolahnya kelas dunia, dan sebagian besar warga Jerman mendapat pendidikan sangat baik. Walau secara finansial Jerman mengakhiri PD I lebih baik dari sebagian besar negara-negara lain, kekalahan mengakibatkan kebencian dan dendam yang akan mengancam demokrasi baru yg dibentuk pada 1919.

PERANG BESAR

Pada 28 Juni 1914, PD I bermula saat pewaris tahta Austro-Hongaria, Archduke Franz Ferdinand dan istrinya ditembak oleh seseorang teroris muda Serbia. Sebagai akibat deklarasi perang Austria-Hongaria terhadap Serbia, Rusia memobilisasi untuk menghadapi Austria-Hongaria dan Italia yang dikenal sebagai Kekuatan Pusat, menyatakan perang terhadap Perancis. Sebagai akibat serangan Jerman terhadap Belgia, Inggris memobilisasi perang terhadap Jerman dan Austria-Hungaria. PD I berkecamuk selama lebih dari empat tahun.

Pada 11 November 1918, sebuah kesepakatan perdamaian disetujui antara Jerman dan sekutu Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan Italia. Kekalahan Jerman mengakhiri monarkiny, dan pada januari 1919, sebuah era demokrasi dimulai. Sebuah konstitusi demokratis ditandatangani di Weimar, memulai pemilihan umum dan era Republik Weimar yang berakhir hingga 1933. Pada musim panas 1919, sekutu berkumpul di Versailles, Perancis untuk menyusun perjanjian perdamaian. Pada awalnya Jerman menolak untuk menandatangani, namun diperingatkan bahwa ketidaksediaan untuk menandatangani akan menyulut perang kembali. Penerimaan kesalahan dan tanggung jawab atas perang langsung mempermalukan mereka, namun akhirnya perjanjian itu meningkatkan rasa nasionalisme di Jerman.

       ASAL USUL HITLER

     Adolf Hitler lahir pada 20 April 1889 di sebuah desa kecil Austria. Setelah kematian ibu tercintanya saat ia masih remaja, Hitler pindah ke Wina dan hidup menyendiri selama bertahun-tahun. Walikota Wina, Karl Lueger, menyita perhatian dan kekaguman Hitler dengan pidato-pidato anti Yahudinya yang karismatik. Saat PD I pecah pada 1914, Hitler bergabung dengan angkatan perang Jerman. Hitler merasa terluka oleh kekalahan Jerman, dan menyalahkan para Yahudi serta kelompok minioritas lain karena meninggalkan upaya Jerman.

Peta populasi warga Yahudi sebelum Holocaust.

Pada 1919, kopral Hitler, yang sekarang seorang informan untuk militer, ditugaskan untuk memata-matai sebuah partai politik antsemit, pro-militer, nasionalis bernama partai Buruh Jerman. Dalam pertemuan, Hitler marah terhadap saran agar Bavaria melepaskan diri dari Jerman. Hitler mengoceh dan murka selama 15 menit dalam pidato nasionalis yang menarik perhatian pemimpin partai. Hitler menerima ajakan untuk bergabung dengan partai dan segera menjadi pemimpin aktif partai, yang kemudian mengubah namanya menjadi Partai Buruh Nasionalis Sosialis Jerman, atau Partai Nazi.

Foto Adolf Hitler sewaktu Bayi

HITLER DALAM PENJARA

Akibat upayanya yang gagal untuk menjatuhkan pemerintahan Bavaria pada 1923, Hitler didakwa melakukan penghianatan tingkat tinggi dan divonis lima tahun penjara. Selama sembilan bulan penahanan, Hitler menuliskan rencananya untuk masa depan Jerman dalam bukunya “Mein Kampf” (Perjuanganku). Hitler menyalahkan Republik Weimar, Para Komunis, dan Yahudi atas kekalahan Jerman di PD I, dan masalah ekonomi dan sosial yang menyusulnya.

Mein Kampf ( “Perjuanganku”) merupakan buku karya Adolf Hitler yang ditulis dalam penjara (setelah putsch yang gagal, pada 1923). Isinya berbicara tentang pandangannya atas Jerman masa depan. Ia juga menggambarkan rencana masa depannya untuk bangsa Yahudi. Saat ia naik ke puncak kekuasaan, pada 1933, ia mewujudkan beberapa isi buku itu, berakibat dalam Holocaust. Buku ini tersedia bebas di kantor-kantor sipil selama masa pemerintahan Nazi di Jerman. Setelah PD II, buku ini dianggap ilegal untuk dijual di Jerman dan Austria.Adolf Hitler mulai menancapkan taringnya dengan ide-ide super gila. Dalam kerangka sejarah sebagai catatan pertarungan ras – ras manusia, ia meyakini bahwa ras Arya-Jerman adalah pemimpin dunia. Ras-ras rendahan, seperti bangsa Yahudi dan Slavia harus dilenyapkan dari muka bumi. Pada titik itu mulai digelar teror “Labensraum” (konsep ruang hidup) dalam bentuk- bentuk ekspansi Jerman ke seluruh dunia.
Mein Kampf (Perjuanganku) yang dianggap sebagai Injil kaum Nazi. Mein Kampf ditulis di dalam penjara, yang memuat skenario Hitler agar Jerman dapat menguasai dunia. “Apa yang harus kita perjuangkan adalah untuk melindungi eksistensi dan reproduksi bangsa dan rakyat kita, pemeliharaan anak-anak kita dan pemurnian darah kita, kebebasan dan kemerdekaan tanah air, sehingga rakyat kita mungkin menjadi matang untuk pemenuhan misi yang diwajibkan padanya oleh pencipta jagat raya” (salah satu cuplikan yang paling populer dalam buku tersebut).
Selama bertahun-tahun Mein Kampf mewakili bukti kebutaan dan kecongkakan dunia. Karena dalam setiap halaman, Hitler mengumumkan – jauh sebelum dia memegang kekuasaan – sebuah program berdarah dan teror dalam sebuah pengungkapan diri yang sangat terbuka, sehingga dia mampu meyakinkan banyak pembaca untuk mempercayainya. Isi buku ini adalah mendemontrasikan bahwa tidak ada methode persembunyian yang lebih efektif darpada publikasi yang luas. Mein Kampf ditulis dengan rasa benci yang putih tetapi membara.

YAHUDI DI EROPA

Kaum Yahudi telah tinggal di Eropa selama lebih dari 2.000 tahun. Saat Hitler berkuasa pada 1933, ada sembilan juta yahudi menetap di sekitar 21 negara Eropa. Di Eropa Timur, kaum Yahudi tinggal di kota-kota kecil bernama Shtetls. Di kota ini, sebagian besar orang berbahasa Yiddish, campuran antara Jerman dan Ibrani, dan hidup secara tradisional. Umumya mereka mengenakan jubah hitam dan pengikut saleh yang taat pada Agama Yahudi tradisional. Di kota-kota besar Eropa Barat, kaum Yahudi hidup berdampingan dengan non -Yahudi. Kaum Yahudi mengadopsi budaya teman-teman non-Yahudi mereka. Mereka berpakaian dan berbahasa sama. Kaum Yahudi biasanya menjadi dokter, pengacara, akuntan, guru dan petani.

 

MEMBANGUN KEKUATAN BANGKITNYA NAZI

 

Sampingan  —  Posted: Juli 21, 2012 in cerita sejarah yang menarik
Tag:, , , , ,

Wilayah yang sekarang disebut Pakistan dan India adalah bagian dari Benua Asia yang sejarah awal penghuninya masih sulit dipastikan. Walaupun di sebelah Utara dibatasi oleh pegunungan tertinggi di dunia, Himalaya, sejak awal para penjajah dan pendatang masuk melalui celah-celah kecil pegunungan yg berbahaya dari Asia Tengah. Lembah Sungai Indus merupakan sebuah pusat pertanian dan peternakan pertama, dan salah satu tempat munculnya peradaban pertama di dunia. Dua agama besar berasal dari India Utara: Hindu dan Budha.

Jauh sebelum tahun 3102 SM gembala dan pengembara masuk ke India melalui celah pegunungan Utara yang kini disebut Celah Khyber. mereka menemukan iklim hangat dan air di seberang pegunungan. Pada musim panas, cuaca sangatlah panas, tapi dua sungai besar mencegah wilayah tersebut menjadi gurun. Salju dan es meleleh dan mengalir dari pegunungan Himalaya membentuk aliran sungai Indus.

Keadaan Lembah Sungai Indus mirip dengan di Mesopotamia atau Mesir, bermusim panas dan kering. Setiap musim hujan juga terjadi banjir. Arus air sungai membawa hunus dari Pegunungan Himalaya ke delta sungai. Akibat melimpahnya air dan humus, wilayah dekat sungai menjadi berlumpur dan subur. akan tetapi, banjir menyebabkan kematian bagi orang-orang yang menempatinya, oleh karena itu wilayah ini membutuhkan pengelolaan yang tepat agar tetap menghasilkan pangan. Pada saat itu, irigasi sudah dilakukan: penggalian parit dan selokan.

Pengelolaan yang baik menyebabkan hasil panen para petani amat melimpah. Maka terjadilah surplus pangan. Akibatnya masyarakat memiliki waktu senggang dan memungkinkan  ada pekerja lain selain sebagai petani. Salah satu tanaman khas yang ada di Lembah Sungai Indus adalah kapas.

* info mengenai kota-kota pertama di Lembah Sungai indus, Bangsa Arya di India, Periode Pembentukan Agama Hindu,dan Para tokoh Reformasi,,,,menyusul yaaaa,,,,,,,,*

terimakasih sudah mengunjungi blogger saya. Semoga bermanfaat meskipun belum selesai,,,,hehehe
masih mencari referensi niiihhhhh,,,,,

PEMBAHASAN :

A.     SEJARAH LAHIRNYA AGAMA BUDDHA

Agama Buddha lahir dan berkembang pada abad ke-6 BC. Agama itu diperoleh namanya dari panggilan yang diberikan kepada pembangunnya yang mula-mula Siddharta Gautama (563-483 BC),yang dipanggilkan dengan : Buddha

Panggilan itu berasal dari akar kata Bodhi (hikmat),yang didalam deklensi (tashrif) selanjutnya menjadi buddhi (nurani),dan selanjutnya menjadi Buddha.Sebab itulah sebutan Buddha pada masa selanjutnya memperoleh berbagai pengertian sebagai berikut: Yang sadar, Yang Cemerlang, Dan yang beroleh terang.

Panggilan itu diperoleh Siddharta Gautama sesudah menjalani sikap hidup penuh kesucian,bertapa,berkalwat mengembara untuk menemukan kebenaran, dekat tujuh tahun lamanya,dan di bawah sebuah pohon, iapun beroleh hikmat dan terang hingga pohon itu sampai saat ini dipanggilkan pohon Hikmat (Tree of Bodhi)

Kitab Suci agama Buddha adalah Tri Pitaka. Tri itu bermakna tiga, dan pitaka itu bermakna bakul, tapi dimaksudkan adalah bakul hikmat.hingga Tripitaka itu bermakna Tiga Himpunan Hikmat, yaitu;

  1. Sutta Pitaka, berisikan himpunan ajaran dan kotbah Buddha Gautama.Bagian terbesar berisi percakapan antara Buddha dengan muridnya.Didalamnya juga termasuk kitab-kitab tenyang pertekunan  (meditasi),dan peribadatan,himpunan kata-kata hikmat,himpunan sajak-sajak agamawi,kisah berbagai orang suci. Keseluruhan himpunan ini ditunjukkan bagi kalangan awam dalam agama Buddha.
  2. Vinaya Pitaka, berisikan Pattimokkha,yakni peraturan tata hidup setiap anggota biara-biara (sangha). Didalam himpunan itu termasuk Maha Vagga, berisikan sejarah pembangunan kebiaraan (ordo) dalam agama Buddha beserta hal-hal yang berkaitan dengan biara. Himpunan Vinaya-pitaka itu ditunjukkan bagi masyarakat Rahib yang dipanggilkan dengan Bikkhu dan Bikkhuni.
  3. Abidharma-pitaka, yang ditunjukkan bagi lapisan terpelajar dalam agama Buddha, bermakna : dhamma lanjutan atau dhamma khusus. Berisikan berbagai himpunan yang mempunyai nilai-nilai tinggi bagi latihan ingatan,berisikan pembahasan mendalam tentang proses pemikiran dan proses kesadaran. Paling terkenal dalam himpunan itu ialah milinda-panha (dialog dengan raja Milinda) dan pula Visuddhi maga (jalan menuju kesucian)

B.     LATAR BELAKANG LAHIRNYA AGAMA BUDDHA

  1. Kondisi sosial,politik dan sosial India

Agama Buddha lahir akibat kondisi sosial dan politik India yang pada saat itu sangat memperihatinkan,dimana di India pada saat itu banyak rakyat yang menderita sedangkan kehidupan raja di Istana sangat mewah.

2. Ketidak puasan terhadap  doktrin brahmana

Ketika agama hindu berkembang dengan pesat, ketamakan kaum brahmana makin menjadi. Karena hanya mereka yang mampu membaca serta menyelenggarakan berbagai upacara keagamaan mereka mulai mulai mengkomersilkan profesinya secara berlebihan. Upah yang diminta tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan sehingga masyarakat mulai jenuh dengan tingkah laku mereka. Jalan upacara korban pun sangat rumit, sehingga reformasi sebagai satu-satunya jalan menuju sorga. Sebagai reaksi langsung bermunculan berbagai aliran yang menentang agama Hindu di masyarakat.

Ada tiga aliran yang paling menonjol pada saat itu. Pertama aliran yang dianjurkan oleh jabali berpendapat bahwa tidak ada surga,tidak ada kehidupan akhir,tidak ada agama dan penyiksaan diri.Karena itu bersenang-senanglah di dalam hidup. Hidup Cuma sekali, tidak ada samsara, tidak mengenal dosa, aliran ini mengejek upacara keagamaan yang dianggap membodohkan masyarakat dan merupakan sumber kebodohan kaum brahmana. Aliran ini terutama diikuti oleh orang yang digolongkan dalam golongan paria dalam agama Hindu.

Kedua,aliran yang dipinpin oleh mahavira dan akhirnya disebut jaina. Yang ini lain lagi sangat bertolak belakang dengan yang pertama. Aliran jaina mencari kebahagiaan abadi dengan berbagai peraturan hidup yang keras. tidak boleh membunuh binatang terkecilpun mereka hindari.ngan berbagai tarikat untuk mencapai keselamatan hidup yang akan datang adalah perbuatan terpuji. Apalagi sampai membinasakan diri. Membunuh diri sendiri merupakan jaminan untuk hidup bahagia di alam baka.

Aliran ketiga muncul sebagi aliran yang merupakan jembatan emas dalam masyarakat. Dinamakan demikian karena aliran ini dibawa oleh seseorang Gautama yang mendapat ilham untuk menyebarkan agama bersama budha yang menjebatani kedua aliran terdahulu. Agama Budha mengambil jalan tengah dalam menempuh hidup ini. Tidak hanya dengan bersenang-senang saja atau dengan mematuhi peraturan yang terlalu keras menyiksa diri.

Sidartha Gautama adalah putra dari raja Suddhodhana dari kerajaan Kavilawastu, Ibunya Dewi Maya dari kota dewadata kota kecil di Kavilawastu yang wilayahnya meliputi wilayah Nepal, Bhutan dan Shikkim sekarang. Ia merupakan lapisan ksatria .

C.     SOLUSI AGAMA BUDDHA DALAM MENCAPAI KEBAHAGIAAN

Budha Gautama menerima dan melanjutkan ajaran agama Brahma/Hindu tentang karma. Yakni hukum sebab akibat dari tindak laku di dalam kehidupan, dan ajaran tentang samsara, yakni lahir berulang kali ke dunia sebagai lanjutan karma dan ajaran tentang moksa yakni pemurnian hidup itu guna terbebas dari Karma dan Samsara.

Sekalipun Budha Gautama menerima ajaran tentang karma dan samsara itu akan tetapi aia menyelidiki dan meneliti pangkal sebab dari keseluruhannya itu, dan merumuskan di dalam Empat Kebenaran Utama.

Sekalipun Budha Gautama menerima ajaran tentang Moksa itu, akan tetapi ia tidak dapat menerima dan membenarkan upacara-upacara kebaktian penuh korban mencapai moksa itu, dan lalu menunjukkan jalan yang hakiki bagi mencapai Moksha yang dirumuskan dengan Delapan Jalan Kebaktian.

Kotbah Pertama Budha Gautama di Isipathana, dalam Taman Menjangan, dekat Benares, berisikan uraian panjang lebar mengenai “Empat Kebenaran Utama” yang pada dasarnya merupakan pendekatan Budha dalam memecahkan masalah kehidupan ini dan Delapan Jalan Kebaktian itu.

Ajaran-AjaranAgamaBudha
Ada beberapa ajaran pada agama budha, yakni :

1.      Empat kebenaran utama (khutbah pertama sang budha )

  • • “Dukha” Lahirnya manusia, menjadi tua dan meninggal dunia.
    • “Samudaya” Penderitaan itu di sebabkan oleh hati yang tidak ikhlas dan hawa nafsu.
    • “Nirodha” Penderitaan dapat di hilangkan, dengan hati ikhlas dan hawa nafsu ditahan
    • “Magga” (jalan), Budha mengemukakan empat tingkatan jalan yang harus dilalui yaitu :
  1. Sila ( kebajikan)
  2. Samadhi (perenungan)
  3. Panna (pengetahuan atau hikmat)
  4. Wimukti (kelepasan)

Kemudian keempat tingkatan ini diselaraskan dengan  delapan jalan tengah atau jalan kebenaran (Astavida) atau Arya Attangika Mangga
a. Berpandangan yang benar
b. berniat yang benar
c. Berbicara yang benar
d. Berbuat yang benar
e. Berpenghidupan yang benar
f. Berusaha yang benar
g. Berperhatian yang benar
h. Memusatkan pemikiran yang benar

2. Ada tiga pengakuan dalam agama budha yaitu ;
• Buddhan saranan gacchami (saya berlindung didalam budha)
• Dhamman saranam gacchami (saya berlindung didalam dhamman)
• Sangham saranam gacchami (saya berlindung didalam sangha ).

3. Dassasila (sepuluh peraturan ) bagi penganut agama budha.
 Setiap penganut agama budha dari golongan bikshu, maupun pengikut biasa. Jika mereka perempuan harus berusaha mencapai keselamatan dan melepaskan diri dari lingkungan hawa nafsu, dan memiliki akhlak serta sifat-sifat keutamaan dengan menjalankan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan sang budha, dassasila (sepuluh peraturan), yaitu;
• jangan mengganggu dan menyakiti makhluk
• jangan menggambil apa yang tidak di berikan
• jangan berzina
• jangan berkata bohong
• janagn meminum barang yang bias memabukkan.
Dan untuk golongan biksu ditambah lima lagi
• jangan makan bukan pada waktunya
• jangan menonton dan menghadiri pertunjukan
• jangan memakai perhiasan emas dan wangi-wangian.
• Jangan tidur di tempat yang enak
• Jangan mau menerima hadiah uang.

  1. Rukun syarat beragama budha

    Adapun rukun beragama budha dan ketentuan-ketentuan dalam beragama budha adalah sebagai berikut :
    • tiap-tiap orang hendaklah berusaha mengetahui budha itu sedalam dalam nya.
    • Manusia harus mempunyai sukma yang halus
    • Manusia jangan sampai melakukan perbuatan yang menyakiti orang lain
    • Manusia harus mencari penghidupan yang tidak mendatangkan kebinasaan bagi orang lain.
    • Tiap tiap orang harus mempunyai niat yang suci dan bersih
    • Tiap tiap orang hendaknya memikirkan semua mahkluk
    • Manusaia hendaklah mempunyai roh yang kuat untuk menciptakan kebaikan dan menghilangkan kejahatan.

D.    KRITIK AGAMA BUDHA TERHADAP VEDA MAUPUN BRAHMANA

Ini berawal dari situasi India menjelang lahirnya Budhisme dalam keadaan kacau, hal ini disebabkan karena serangan bangsa-bangsa dari luar India secara bertubi-tubi. Keadaan ini menimbulkan beban psikhologis bagi masyarakat India berupa timbulnya kebingungan, kekecewaan, dan keraguan terhadap apa yang selama ini dijadikan pedoman hidup beragama dan bernegara. Dari sinilah timbul krisis kepercayaan. Ini terbukti bahwa bangsa Arya yang selama ini merasa paling unggul dan jauh lebih maju dari penduduk asli India ternyata mengalami kekalahan ketika melawan bangsa luar. Dan saat itulah pedoman hidup yang selama ini mereka pakai yang bersumber dari veda maupun brahmana mulai dipertanyakan sebagai sumber kepercayaan maupun sebagai pedoman hidup yang mendatangkan kebahagiaan atau kesejahteraan hidup di dunia.

Dengan demikian orang mulai mempertanyakan kebenaran ajaran Brahmana yang sangat menekankan upacara persajian yang rumit, jelimet, dan formalitas sebagai satu-satunya jalan untuk memperoleh kesejahteraan atau kebebasan tersebut.

Dalam situasi yang demikian inilah agama Budha menyampaikan kritikan-kritikan yang tajam. Beberapa penyimpangan yang dikritik oleh Budha adalah antara lain:

  1. Otoritas kaum Brahmana dan ketergantungan seseorang kepadanya
  2. Upacara persajian yang rumit , jelimet, formalitas, dan kuno
  3. Doa yang membuat para dewa tidak berdaya dihadapan pendeta (Imam)
  4. Budha mengkritik ajaran Brahmana bahwa proses pembebasan itu sangat panjang yaitu harus melewati jenjang Brahmana. Alasannya yaitu menurut Budha, bagaimana mungkin perbuatan yang sama baiknya, namun karena berbeda stastusnya, bisa mendatangkan pahala yang berbeda.
  5. Budha sangat menentang dominasi Brahmana serta mengkritik doktrin Brahmana atau menentang legitimasi Weda. Doktrin Brahmana yaitu, pertama, menyatakan Weda sebagai satu-satunya sumber kebajikan, kebenaran spiritual dan ritual. Kedua, menyatakan Brahmana sebagai warga yang paling terhormat dalam rangkaian konsepsi Wanasrama yang dianut oleh ajaran Bramanisme.

Selain menolak jalan upacara mencapai moksa atau nirwana, jalan penyiksaan diri yang keras sebagaimana yang diajarkan oleh Yoga juga ditolak.

(maaf yaa,,,,belum selesai  :)  )

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan. Ribuan kepulauan yang ada di Indonesia memiliki kebudayaan yang beranekaragam. Salah satu pulau yang ada di Indonesia adalah pulau Bali yang merupakan pulau seribu pura. Namun, di Pulau Bali pun ada beberapa pulau kecil lainnya, salah satunya Pulau Nusa Penida. Nusa Penida merupakan sebuah pulau yang hanya ada satu kecamatan yang memiliki daerah wisata yang tergolong digemari oleh para wisatawan asing maupun domestik disamping juga memiliki sejarah yang unik di berbagai daerah yang ada di Nusa Penida, seperti sejarah Desa Ped. Desa Ped merupakan sebuah desa yang berada di pesisir pantai yang terdiri dari dua belas banjar. Memang awalnya sejarah Desa Ped masih simpang siur, hal ini disebabkan karena minimnya sumber. Namun berbagai cara telah dilakukan agar sejarah Desa Ped ini bisa diketahui. Akan tetapi, tahun berdirinya masih belum diketahui secara pasti.

 

1.2  Rumusan Masalah

1.2.1        Bagaimana Kependudukan Desa Ped ?

1.2.2        Bagaimana asal kata “Ped” ?

1.2.3        Bagaimana Sejarah Pura Dalem Penataran Ped ?

1.2.4        Bagaimana Sejarah Hubungan Pura Dalem Penatara Ped dengan Dalem Dukut ?

 

1.3  Tujuan

1.3.1        Untuk mengetahui kependudukan Desa Ped.

1.3.2        Untuk mengetahui asal kata “Ped”.

1.3.3        Untuk megetahui Sejarah Pura Dalem Penataran Ped.

1.3.4        Sejarah Hubungan Pura Dalem Penataran Ped dengan Dalem Dukut.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kependudukan Desa Ped

Desa Ped merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali yang terdiri dari enam dusun yakni Sental, Seming, Pendem, Adegan, Biaung, dan Dusun Ped yang masing-masing dusun terdiri dari beberapa banjar. Dusun Sental terdiri dari dua banjar yakni Sental Kangin dan Sental Kawan, Dusun Seming terdiri dari dua banjar yakni Banjar Seming dan Banjar Serangen, Dusun Pendem terdiri dari Banjar Pendem dan Banjar Bodong, Dusun Adegan terdiri dari banjar Adegan Kangin dan Adegan Kawan, Dusun Biaung terdiri dari banjar Biaung, dan Dusun Ped terdiri dari dari Banjar Prapat, Banjar Bias dan Banjar Nyuh. Sehingga bisa dilihat dari enam dusun yang di Desa Ped ada sebanyak dua belas banjar. Jumlah penduduk secara keseluruhan 4.976 orang (data sensus penduduk 2011). Luas Desa Ped yakni 21,15 ha dengan batas-batas wilayah, sebelah Utara yakni laut, Selatan Desa Klumpu, Timur Desa Kutampi, Barat Desa Sakti dan Toye Pakeh.

Sistem mata pencaharian di Desa Ped dominan seorang petani rumput laut. Jika kita lihat melalui presentase, 60% petani rumput laut, 10% pedagang, 20% petani sekaligus peternak sapi, 10% pegawai negeri. Hal ini disebabkan karena sebagian besar penduduk yang berasal dari pesisir pantai. Penduduk yang sebagian besar tinggal di pesisir pantai yakni dari Timur ke Barat, banjar Sental Kangin, banjar Sental Kawan, sebagian penduduk banjar Seming tinggal di pesisir pantai, selebihnya tinggal di perbukitan yang mata pencahariannya petani musiman dan peternak sapi dan ayam, begitu juga sebagian kecil banjar Serangen, namun sebagian besar penduduk banjar Bodong, banjar Pendem, banjar Adegan, banjar Bias, banjar Prapat, dan banjar Nyuh yang tinggal menetap di pesisir pantai.

2.2       Asal Kata Desa Ped

Penulis menggunakan beberapa jenis sumber untuk mengetahui apa sebenarnya asal kata Desa Ped itu sendiri. Sumber yang digunakan  diantaranya beberapa sumber lisan dan beberapa sumber tertulis lainnya. Dari hasil wawancara penulis kepada seorang kakek sekaligus mantan Perbekel Desa Ped yang menjabat dari tahun 1960-1965 yaitu I Wayan Regeh menyatakan bahwa kata “Ped” berasal dari kata “Mapeed” yang artinya beriringan. Beriringan yang dimaksud di sini berawal dari kesaktian tiga buah tapel yang terkenal ke pelosok Bali dan sampai didengar oleh seorang Pedanda yaitu Ida Pedanda Abiansemal, sehingga Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura Dalem Nusa. Dulu bernama Pura Dalem Nusa tetapi sudah ada pergantian nama setelah Ida Pedanda Abiansemal beriringan (mapeed) ke Pura Dalem Nusa kemudian digantikan oleh seorang tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung menjadi Pura Dalem Ped. I Wayan Regeh mengetahui hal ini dari membaca sebuah buku yang berjudul Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped” yang ditulis Drs. Wayan Putera Prata, tetapi sayangnya buku ini sudah hilang dipinjam oleh seseorang. Selain itu juga, I Wayan Regeh juga mengetahui dari sumber lisan yang sempat ia lakukan melalui seorang pemangku pemucuk Desa Ped. (Sumber: I Wayan Regeh.23 Oktober 2011).

Dengan adanya pernyataan I Wayan Regeh maka untuk mengetahui Sejarah Desa Ped tidak terlepas dari sejarah sebuah pura yang terkenal di pelosok Bali ini yang merupakan salah satu pura kahyangan di Bali sekaligus terkenal angker yaitu Pura Dalem Ped atau Pura Penataran Ped. Dari beberapa sumber lisan yang penulis temukan, salah satunya Jro Mangku Putu Lingga yang merupakan salah satu pemangku pemucuk Pura Dalem Ped menyatakan bahwa kelompok-kelompok penduduk dulu (sebelum menjadi sebuah banjar) yang ada di dekat ataupun di sekitar lingkungan Pura Dalem Ped menjadi pengempon Pura Dalem Ped ini. Beberapa dusun yang menjadi pengempon Dalem Ped pada waktu itu sampai sekarang yaitu seperti diuraikan sebelumnya enam dusun yakni Sental, Seming, Pendem, Adegan, Biaung, dan Dusun Ped. Dusun Sental terdiri dari dua banjar yakni Sental Kangin dan Sental Kawan, Dusun Seming terdiri dari dua banjar yakni Banjar Seming dan Banjar Serangen, Dusun Pendem terdiri dari Banjar Pendem, Dusun Adegan terdiri dari banjar Adegan Kangin dan Adegan Kawan, Dusun Biaung terdiri dari banjar Biaung, dan Dusun Ped terdiri dari dari Banjar Prapat, Banjar Bias dan Banjar Nyuh.

2.3 Sejarah Pura Dalem Penataran Ped

Pura Dalem Ped merupakan salah satu pura kahyangan jagad yang terkenal di pelosok Bali sehingga masyarakat Bali berbondong-bondong tangkil ke Pura Dalem Ped ini. Pura Dalem Ped tepat berada di pesisir pantai Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung.

Sejarah Desa Ped tergolong sangat unik. Dalam penulisan sejarah Desa Ped ini, penulis hanya menggunakan sumber lisan, artefak dan selebihnya dari berbagai media. Hal ini disebabkan karena penulis tidak menemukan sumber tertulis yang bisa dijadikan sumber. Artefak yang dimaksud di sini adalah adanya tiga buah tapel yang sekarang di’linggih’kan di Pura Dalem Ped. Seperti uraian di atas, dengan adanya tiga buah tapel ini melahirkan sebuah nama “Ped”, yang pada awalnya dari kesaktian tiga buah tapel yang sangat populer ke pelosok Bali pada saat itu dan sampai didengar oleh seorang Pedanda yaitu Ida Pedanda Abiansemal, sehingga Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura Dalem Nusa. Dulu bernama Pura Dalem Nusa tetapi sudah ada pergantian nama setelah Ida Pedanda Abiansemal beriringan (mapeed) ke Pura Dalem Nusa kemudian digantikan oleh seorang tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung menjadi Pura Dalem Ped.

Informasi tentang keberadaan Pura Dalem Ped atau Pura Penataran Ped pada awalnya masih sangat simpang siur. Hal ini disebabkan karena dalam penggalian sumber untuk mencari informasi tentang keberadaan pura ini, sumber-sumber yang ada sangat minim. Dengan demikian hal ini memicu timbulnya perdebatan yang cukup lama di antara beberapa tokoh-tokoh spiritual. Perdebatan yang timbul yakni mengenai nama pura. Kelompok Puri Klungkung, Puri Gelgel dan Mangku Rumodja Mangku Lingsir, menyebutkan pura itu bernama Pura Pentaran  Ped. Yang lainnya, khususnya para balian di Bali, menyebut Pura Dalem Ped.

Menurut Dewa Ketut Soma seorang penekun spiritual dan penulis buku asal Desa Satra, Klungkung, dalam tulisannya berjudul “Selayang Pandang Pura Ped” berpendapat, kedua sebutan dari dua versi yang berbeda itu benar adanya. Menurutnya, yang dimaksudkan adalah Pura Dalem Penataran Ped, Jadi, satu pihak menonjolkan “penataran”-nya, satu pihak lainnya lebih menonjolkan “dalem”-nya.

Kembali pada tiga buah tapel. Saking saktinya, tapel-tapel itu bahkan mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit, baik yang diderita manusia maupun tumbuh-tumbuhan. Sebelumnya, Ida Pedanda Abiansemal kehilangan ‘ tiga buah tapel. Begitu menyaksikan tiga tapel yang ada di Pura Dalem Nusa itu, ternyata tapel tersebut adalah miliknya yang hilang dari kediamannya. Namun, Ida Pedanda tidak mengambil kembali tapel-tapel itu dengan catatan warga Nusa menjaga dengan baik dan secara terus-menerus melakukan upacara-upacara sebagaimana mestinya.

Kesaktian tiga tapel itu bukan saja masuk ke telinga Ida Pedanda, tetapi ke seluruh pelosok Bali, termasuk pada waktu itu warga Subak Sampalan yang saat itu menghadapi serangan hama tanaman seperti tikus, walang sangit dan lainnya. Ketika mendengar kesaktian tiga tapel itu, seorang klian subak diutus untuk menyaksikan tapel tersebut di Pura Dalem Nusa. Sesampainya di sana, klian subak memohon anugerah agar Subak Sampalan terhindar dari berbagai penyakit yang menyerang tanaman mereka, Permohonan itu terkabul. Tak lama berselang, penyakit tanaman itu pergi jauh dari Subak Sampalan. Hasil panenpun menjadi berlimpah.

Kemudian warga menggelar upacara mapeed. Langkah itu diikuti subak-subak lain di sekitar Sampalan. Kabar tentang pelaksanaan upacara mapeed itu terdengar hingga seluruh pelosok Nusa. Sejak saat itulah I Dewa Agung Klungkung mengganti nama Pura Dalem Nusa dengan Pura Dalem Peed (Ped).

Meski pun ada kata “dalem”, namun bukan berarti pura tersebut mempakan bagian dari Tri Kahyangan. Yang dimaksudkan “dalem” di sini adalah merujuk sebutan raja yang berkuasa di Nusa Penida pada zaman itu. Dalem atau raja dimaksud adalah penguasa sakti Ratu Gede Nusa atau Ratu Gede Mecaling.

Ada lima lokasi pura yang bersatu pada areal Pura Penataran Agung Ped. Persembahyangan pertama yakni Pura Segara, sebagai tempat berstananya Bhatara Baruna, yang terletak pada bagian paling utara dekat dengan bibir pantai lautan Selat Nusa. Persembahyangan kedua yakni Pura Taman yang terletak di sebelah selatan Pura Segara dengan kolam mengitari pelinggih yang ada di dalamnya yang berfungsi sebagai tempat penyucian. Kemudian persembahyangan ketiga yakni ke baratnya lagi, ada pura utama yakni Penataran Ratu Gede Mecaling sebagai simbol kesaktian penguasa Nusa pada zamannya. Persembahyangan terakhir yakni di sebelah timurnya ada Ratu Mas. Terakhir di jaba tengah ada Bale Agung yang merupakan linggih Bhatara-bhatara pada waktu ngusaba.

Masing-masing pura dilengkapi pelinggih, bale perantenan dan bangunan-bangunan lain sesuai fungsi pura masing-masing. Selain itu, di posisi jaba ada sebuah wantilan yang sudah berbentuk bangunan balai banjar model daerah Badung yang biasa dipergunakan untuk pertunjukan kesenian.

Seluruh bangunan yang ada di Pura Penataran Agung Ped sudah mengalami perbaikan atau pemugaran, kecuali benda-benda yang dikeramatkan. Contohnya, dua area yakni Area Ratu Gede Mecaling yang ada di Pura Ratu Gede dan Area Ratu Mas yang ada di Pelebaan Ratu Mas. Kedua area itu tidak ada yang berani menyentuhnya. Begitu juga bangunan-bangunan keramat lainnya. Kalaupun ada upaya untuk memperbaiki, hal itu dilakukan dengan membuat bangunan serupa di sebelah bangunan yang dikeramatkan tersebut.

2.4 Sejarah Hubungan Pura Dalem Ped dengan Dalem Dukut

Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan upaya Dalem Klungkung menyatukan Nusa Penida dengan Bali. Upaya itu dilakukan untuk membangun hubungan yang lebih produktif antara rakyat Bali dan rakyat Nusa. Hanya saja saat Ngurah Peminggir diutus oleh Dalem Klungkung mendekati Dalem Nusa ternyata gagal. Kegagalan itu karena Ngurah Peminggir menggunakan kekerasan perang mau menguasai Nusa. Bagaimana hubungan kesejarahan antara Pura Dalem Peed dengan Dalem Dukut?

Saat itu Dalem Nusa melepaskan wong samarnya mengalahkan Ngurah Peminggir dengan pasukannya. Dalem Klungkung melanjutkan upaya penyatuan Pulau Bali dengan Nusa dengan mengutus I Gusti Ngurah Jelantik Bogol. Pendekatan yang digunakan oleh I Gusti Ngurah Jelantik Bogol adalah pendekatan yang etis mengikuti tata krama seorang kesatria sebagai utusan raja. Dalem Dukut pun menerima dengan sangat hormat sesuai dengan tata krama kerajaan dalam menerima utusan raja.

Dalem Dukut atau ada juga sumber yang menyebut Dalem Bungkut bersedia menyerahkan Kerajaan Nusa melalui suatu cara yang terhormat dalam tata krama sebagai kesatria. Dua tokoh ini pun mengadakan perang tanding secara terhormat dengan tidak melibatkan prajurit dan rakyatnya. Mereka melakukan perang tanding secara kesatria tidak berdasarkan kebencian dan kesombongan akan kelebihan diri masing-masing.

I Gusti. Jelantik Bogol dalam perang tanding itu menggunakan senjata pemberian kerajaan bernama ”Ganja Malela”. Dalam perang tanding itu senjata Ganja Malela I Gusti Jelantik Bogol patah. Hampir saja I Gusti Jelantik Bogol kalah. Cepat-cepat istrinya, Ni Gusti Ayu Kaler, memberikan senjata bartuah bernama Pencok Sahang. Melihat senjata Pencok Sahang ini Dalem Dukut sudah punya firasat bahwa waktunya sudah tiba untuk kembali ke alam sunia lewat senjata Pencok Sahang.

Peperangan pun dihentikan sementara dan Dalem Dukut menyatakan kepada I Gusti Jelantik Bogol bahwa ia akan kembali ke Sunia Loka lewat senjata Pencok Sahang itu. Dalem Dukut pun menyatakan menyerahkan segala kekayaan Nusa dengan rakyat dan wong samar-nya untuk mendukung Dalem Klungkung memajukan Klungkung.

Senjata Pencok Sahang ini sesungguhnya adalah taring Naga Basuki. Ketika Ni Gst. Ayu Kaler mandi di Sungai Unda ada sepotong kayu bagaikan kayu bakar atau sahang yang selalu menujunya. Setiap kayu itu dijauhkan dari dirinya selalu balik kembali mendekati dirinya. Akhirnya kayu itu dipungut. Setelah dibelah ternyata di dalamnya terdapat sebuah keris yang belum jadi. Keris itulah bernama Pencok Sahang yang tiada lain adalah taring Naga Basuki sendiri.

Perlu direnungkan latar belakang dari perang tanding Dalem Dukut dengan Jelantik Bogol. Dua orang ini sesungguhnya sudah saling kenal, bahkan bersahabat saat belum menjabat sebagai raja maupun patih. Saat ada panggilan tugas yang berbeda ini mereka kelola dengan bijak sesuai dengan swadharma kesatria. Saat Patih Jelantik Bogol datang ke Nusa membawa tugas Kerajaan Klungkung, Dalem Dukut menyambutnya dengan sangat ramah. Dalem Dukut menyatakan bahwa jangan karena ada tugas yang berlawanan terus persahabatan menjadi hilang. Demikian juga sebaliknya jangan karena sahabat terus swadharma ditinggalkan sebagai seorang kesatia. Patih Jelantik Bogol membawa pasukan dari Klungkung, tetapi tidak dengan kasar menyerang Kerajaan Nusa. Jelantik Bogol mengatakan pendekatan diplomatik terlebih dahulu dengan cara-cara yang menghormati Dalem Dukut. Raja Nusa ini pun menyambut dengan baik. Dalem Dukut menjamu Patih Jelantik Bogol sebagai seorang teman.

Dalam jamuan tersebut Dalem Dukut menyatakan bahwa Nusa tidak akan kalah kalau Dalem Dukut masih hidup, walaupun semua pasukan Nusa habis. Sebaliknya utusan Dalem Klungkung pun tidak akan kalah kalau Patih Jelantik Bogol tidak gugur di medan perang, meskipun semua pasukan Klungkung gugur dalam pertempuran.

Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol sepakat untuk tidak memberikan pasukannya masing-masing bertempur. Biarlah mereka bergembira membangun komunikasi persaudaraan demi Bali dan Nusa. Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol sepakat untuk melakukan perang tanding dalam melakukan swadharma kesatria. Swadharma Patih Jelantik Bogol adalah menyukseskan misi Dalem Klungkung untuk menyatukan Nusa Penida ke dalam kekuasaan Klungkung, sedangkan Dalem Dukut memiliki swadharma untuk menjaga eksistensi kehormatan Kerajaan Nusa Penida.

Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol perang tanding untuk melakukan swadharmanya masing-masing. Perang tanding itu bukan dilakukan karena kebencian, tetapi atas dorongan melakukan swadharma sebagai kesatria. Dalam melakukan swadharma tersebut mereka tetap juga menjaga persahabatan. Sebelum perang tanding dilangsungkan, Dalem Dukut pun menjamu I Gst. Ngurah Jelantik Bogol sebagai seorang sahabat dengan jamuan kehormatan. Pasukan Klungkung dan Nusa pun ikut berpesta dalam perjamuan tersebut.

Setelah jamuan berlangsung barulah perang tanding dilakukan dengan cara-cara kesatria. Kedua pasukan hanya sebagai saksi perang tanding tersebut. Apalagi rakyat sipil tidak ada yang jadi korban dalam proses penguasaan Nusa oleh Dalem Klungkung. Sifat-sifat kesatria Dalem Dukut dan Patih Jelantik Bogol ini patut menjadi renungan kita bersama dalam membangun Bali dalam proses dinamika kehidupan politik untuk mengutamakan sifat-sifat kesatria yang tidak mengorbankan rakyat kecil untuk mewujudkan tujuan mencapai kekuasaan maupun mencari kekayaan.

Bersatunya Nusa dengan Bali menjadi satu sistem pemerintahan dalam proses yang sangat terhormat pada masa pemerintahan Dalem Klungkung. Tidak ada yang kalah menang dalam artian sempit. Dalem Dukut tidak mengerahkan pasukan wong samar-nya melawan I Gst. Jelantik Bogol. Kemungkinan Dalem Dukut melihat suatu kepentingan yang lebih besar dan lebih mulia yaitu bersatunya alam dan rakyat Nusa dengan Bali. Persatuan ini akan membawa kedua daerah lebih mudah maju membangun kesejahteraan hidup bersama antara rakyat Bali dan Nusa Penida lahir batin.

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan

Desa Ped merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali yang terdiri dari enam dusun yakni Sental, Seming, Pendem, Adegan, Biaung, dan Dusun Ped yang masing-masing dusun terdiri dari beberapa banjar.

Kata “Ped” berasal dari kata “Mapeed” yang artinya beriringan. Beriringan yang dimaksud di sini berawal dari kesaktian tiga buah tapel yang terkenal ke pelosok Bali dan sampai didengar oleh seorang Pedanda yaitu Ida Pedanda Abiansemal, sehingga Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas keberadaan tiga tapel yang sakti di Pura Dalem Nusa.

Kesaktian tiga tapel itu bukan saja masuk ke telinga Ida Pedanda, tetapi ke seluruh pelosok Bali, termasuk pada waktu itu warga Subak Sampalan yang saat itu menghadapi serangan hama tanaman seperti tikus, walang sangit dan lainnya. Ketika mendengar kesaktian tiga tapel itu, seorang klian subak diutus untuk menyaksikan tapel tersebut di Pura Dalem Nusa. Sesampainya di sana, klian subak memohon anugerah agar Subak Sampalan terhindar dari berbagai penyakit yang menyerang tanaman mereka, Permohonan itu terkabul. Tak lama berselang, penyakit tanaman itu pergi jauh dari Subak Sampalan. Hasil panenpun menjadi berlimpah.

Dalam Lontar Ratu Nusa diceritakan upaya Dalem Klungkung menyatukan Nusa Penida dengan Bali. Upaya itu dilakukan untuk membangun hubungan yang lebih produktif antara rakyat Bali dan rakyat Nusa. Hanya saja saat Ngurah Peminggir diutus oleh Dalem Klungkung mendekati Dalem Nusa ternyata gagal. Kegagalan itu karena Ngurah Peminggir menggunakan kekerasan perang mau menguasai Nusa.

Dalem Klungkung melanjutkan upaya penyatuan Pulau Bali dengan Nusa dengan mengutus I Gusti Ngurah Jelantik Bogol. Pendekatan yang digunakan oleh I Gusti Ngurah Jelantik Bogol adalah pendekatan yang etis mengikuti tata krama seorang kesatria sebagai utusan raja. Dalem Dukut pun menerima dengan sangat hormat sesuai dengan tata krama kerajaan dalam menerima utusan raja.

DAFTAR PUSTAKA

Madani, Kharisma.2010. Sejarah Pura Penataran Dalem Agung Ped. Atmosfer Kekuatan (tabik pekulun) Ratu Gede Nusa. www.google.com. diunduh pada tanggal 2 November 2011

Soma, Dewa Ketut. 2010 “Selayang Pandang Pura Ped”. Klungkung

Wahyudi, Gede. 2011. PURA DALEM PED. www.google.com. diunduh pada tanggal 2 November 2011

GERAKAN PEREMPUAN DI INDONESIA

            Munculnya gerakan perempuan di belahan dunia membawa imbas ke dalam nuansa pergerakan perempuan Indonesia. Ini terlihat munculnya ide-ide emansipatif oleh kartini dan organisasi lainnya untuk menekan keluarnya undang-undang perkawinan pada dekade 1950-an. Seiring perkembangan zaman pergerakan berkembang pada isu-isu gender seperti masalah peran ganda, isu perkosaan, aborsi, domestic violence, serta isu-isu lainnya.

Secara garis besar pergerakan perempuan dapat dibagi menjadi empat periode, yaitu:

  1. Periode Sebelum Proklamasi Kemerdekaan.
  2. Periode Setelah Proklamasi Kemerdekaan (1945-1965).
  3. Periode Pasca 1965 (Orde Baru).
  4. Periode Reformasi (1998 s.d sekarang).
  1. 1.      Periode Sebelum Proklamasi Kemerdekaan

Perlakuan ketidak adilan yang dialami perempuan Indonesia, khususnya dalam lingkup keluarga, ditulis pada surat-surat kartini dari tahun 1878 sampai 1904 yang dibukukan pada permulaan abad ke-20. Surat-surat kartini banyak berbicara tentang nilai-nilai tradisi (khususnya Jawa) yang cendrung  membelenggu perempuan, tergantung pada laki-laki sehingga perempuan menjadi kaum yang tidak berdaya. Kartini menetapkan permasalahan penindasan perempuan pada permasalahan system budaya masyarakat. Dan mengecam system kolonialisme yang progresif. Strategi perjuangan yang dilakukan oleh kartini untuk mengatasi permasalahan yang dialami kaumnya adalah dengan melalui pendekatan pendidikan. Satu pendekatan yang cukup brilian dalam konteks pada masa itu.

Kartini menganjurkan agar kaum muda mengadakan persatuan untuk berjuang mencapai cita-cita bagi kemajuan bangsanya. Seruan kartini tentang pentingnya persatuan sangat dicamkan oleh para pemuda yang saat itu belajar di negeri Belanda. Sebagai bukti adalah berdirinya Indische Vereeniging  yang selanjutnya bernama Perhimpunan Indonesia, didirikannya organisasi perempuan tahun 1912 yaitu Poetri Mardika atas bantuan Budi Utomo. Langkah-langkah perjuangan Kartini tersebut ternyata menjadi stimulus bagi perjuangan perempuan di masa-masa berikutnya. Sehingga memunculkan organisasi perempuan yang modern. Organisasi ini tidak hanya berjuang melawan penjajah tapi juga melawan adat istiadat yang mendiskriminasi perempuan. Program utamanya adalah memajukan perempuan dalam pendidikan dan menghilangkan perlakuan tidak adil terhadap kaum perempuan.

Gerakan perempuan Poetri Mardika dikatakan sebagai pionir dan diikuti oleh organisasi perempuan yang lain seperti Jong Java Meisjeskring (Kelompok Pemudi Jawa Muda) tahun 1915, dan Aisyah (Pemudi Muhamadiyah) tahun 1917. Awal kegiatannya mendorong perempuan untuk berani tampil di muka umum. Perhatian khusus diberikan kepada lembaga perkawinan. Organisasi perempuan tumbuh bagaikan jamur. Pada masa itu organisasi yang berkembang adalah organisasi perempuan yang terkait pada agama.Seperti, Aisyah, NU, Wanita Tarbiyah (Islam). Untuk wanita Protestan dikenal PWKI (Persatuan Wanita Kristen Indonesia) dan untuk wanita Katolik dikenal WKRI (Wanita Katolik Republik Indonesia).

Seiring dengan tekanan pada upaya-upaya represif yang dilakukan pemerinyah Hindia Blanda kepada tokoh pergerakan nasional, sekitar tahun 20-an dan 30-an kelompok-kelompok nasionalis melakukan konsoldasi diantara mereka untuk untuk menghadapi kondisi sulit tersebut. Kaum pemuda dari seluruh Indonesia yang semula tergabung dalam organisasi daerahnya masing-masing, mengadakan fusi tanggal 1 Januari 1931 yang diberi nama Jong Indonesia kemudian tahun 1939 diubah menjadi Indonesia Moeda. Organisasi Islam membentuk Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), organisasi-organisasi politik membentuk Federasi PPPKI.

Semangat nasionalisme para pemuda diikuti oleh para perempuannya. Pada 1928 dikatakan sebagai titik balik perjuangan perempuan, tepatnya saat diselenggarakannya Kongres Perempuan Pertama di Dalem Djojodipuran , Yogyakarta. Kongres itu diprakarsai oleh tiga tokoh perempuan yang progresif, yaitu Ibu Soekonto (Wanita Utomo), Nyi Hajar Dewantara (Wanita Taman Siswa), dan Ibu Soejatim (Puteri Indonesia).  Salah satu keputusan penting adalah terbentuknya federasi Perikatan Perempuan Indonesia (PPI) Yang pada 1929 mengganti nama menjadi Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia. Dan akhirnya berubah menjadi Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) pada 1946. Pada dasarnya semua organisasi mempunyai tujuan yang sama yakni menghilangkan ketidak adilan terhadap kaum wanita.

Perjuangan perempuan tidak hanya melawan penjajah belanda tetapi sudah berani menuntut adanya hak dipilih dan memilih. Tuntutan itu akhirnya dikabulkan oleh pemerintah Belanda dengan memberikan hak pilih bagi perempuan pribumi (Indonesia) dengan duduknya perempuan Indonesia di Gemeenteraad (DPRD Tingkat II). Pada pendudukan Jepang organisasi perempuan mengalami depolitisasi yang berat. Hanya diizinkan satu organisasi perempuan yang berdiri yakni FUYINKAI yang harus menuruti perintah Jepang. Sehingga ruang gerak organisasi sangat terbatas. Dibalik tekanan politis yang tinggi dari pemerintah Jepang itu ternyata ada dampak positif yang dapat dirasakan oleh organisasi perempuan pada masa itu. Keuntungannya organisasi perempuan dapat melebar keseluruh penjuru tanah air karena terlibat dalam kegiatan yang akan dapat dipergunakan bagi kemenangan Jepang.

  1. Periode setelah proklamasi kemerdekaan (1945-1965)

Kekalahan jepang oleh sekutu memberikan kesempatan bagi kita untuk menyatakan diri sebagai Negara yang berdaulat melalui Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustu 1945. Kemerdekaan itu memberikan kesempatan lebih luas bagi kaum perempuan untuk lebih berkiprah maju ke depan membela Negara sekaligus mengisi kemerdekaan secara nyata.

Masa mempertahankan kedaulatan Negara itu bermunculan lascar bersenjata yang anggotanya para perempuan. Lascar Putri Indonesia di Surakarta, Pusat Tenaga Perjuangan Wanita Indonesia, Laskar Wanita Indonesia, Persatuan Wanita Indonesia, yang terbentuk setelah bubarnya Fujinkai Wanita Negara Indonesia. Pada tahun 1946 di Yogyakarta terbentuk lascar Perempuan yang bernama Wanita Pembantu Perjuangan. Pada taun 1948 pemerintah membentuk Korps Polisi Wanita, diikuti oleh Korps Wanita Angkatan Darat pada taun 1961, Korps Wanita Angkatan Laut tahun 1962,  Korps Wanita Angkatan Udara tahun 1963. Munculnya pergerakan perempuan dilatarbelakangi oleh upaya membantu mempertahankan kemerdekaan dari serangan Belanda yang ingin menjajah kembali.

Dalam sejarahnya periode gerakan perempuan pernah mengalami masa transisi yaitu saat meletusnya G 30S PKI tanggal 30 September 1965. Bersama dengan banyaknya organisasi lainnya, organisasi perempuan mau tak mauterseret ke dalam arus politik yang ada dengan bereaksi terhadaf usaha kudeta tersebut.

  1. Periode Pasca 1965 (Orde Baru)

Awal periode ini bertitik tolak pada saat diselenggarakannya Musyawarah Kerja Sekretariat Bersama (SEKBER) GOLKAR pada Desember 1965 dan dianggap sebagai tonggak lahirnya Orde Baru. Melalui musyawarah ini  maka berhasil disusun program konsolidasi organisasi dan program perjuangan bagi tegaknya ORBA. Konsolidasi disusun dalam 10 koordinasi (KOSI). Ada KOSI wanita dengan jumlah anggota sebanyak  23 organisasi wanita yang tergabung dalam koordinasi Wanita SEKBER GOLKAR. Kemudian seiring perkembangan waktu dipandang perlu membentuk  wadah bagi wanita, dibentuklah Himpunan Wanita Karya (HWK).

Dalam gerakan perempuan ada kecenderungan organisasi yang sejenis menyatu dalam bentuk fusi, federasi atau setidaknya bentuk kerjasama. Diantaranya perkumpulan istri tentara yang awalnya berdiri atas prakarsa sendiri dan terpencar di berbagai daerah akhirnya membentuk fusi dengan nama PERSIT Kartika Chandra Kirana.

Selain itu ada juga bentuk federasi perempuan lain yakni Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia 1967,  badan kerjasama Wanita Kristen Indonesia (1973). Selain itu ada juga Dharma Wanita (1974). Yang khusus adalah pembentukan fusi organisasi yang diprakarsai oleh Pemerintah dengan Presiden RI sebagai Pembina utama, istri Presiden penasehat utama, sedangkan dewan Pembina terdiri dari beberapa menteri. Dharma Wanita disebut organisasi fungsional yang dimaksudkan untuk mengintegrasikan kegiatan organisasi istri pegawai agar searah dengan pelaksanaan tugas pegawai negeri Republi Indonesia sebagai aparatur negara. Setelah 5 tahun berdiri, kemudian dilakukan penyempurnaan bentuk organisasi. Melalui MUNAS I tanggal 30-31 Mei 1977 di Jakarta telah diputuskan peleburan kesatuan Dharma Wanita.

Pada 1974, di Jawa Tengah terbentuk gerakan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan ini kemudian ditetapkan bahwa gerakan PKK berlaku secara nasional yang merupakan salah satu gerakan untuk meningkatkan kehidupan perempuan terutama di golongan bawah. Gerakan ini merupakan usaha nasional yang mendapat subsidi dari pemerintah. Fokus gerakan ini diarahkan pada upaya pembinaan kesehatan, gizi, hygiene dan menambah pengetahuan tentang pendidikan anak serta menambah keterampilan untuk menambah penghasilan.

Pada operasionalnya gerakan perempuan Indonesia mencakup organisasi yang lebih kecil bahkan termasuk organisasi local di tingkat kabupaten. Ada juga yang berbentuk yayasan yang hanya terdiri dari kelompok pengurus dengan kegiatan khusus di bidang tertentu yang bertujuan meningkatkan kemampuan perempuan pedagang kecil, membela perempuan buruh, atau member penyuluhan bagi perempuan.

Gerakan perempuan Indonesia juga mencakup Pusat Studi Wanita (PSW), yakni kelompok di perguruan tinggi yang menjadikan masalah wanitasebagai bahan studi ilmiah. Mereka mengadakan penelitian social, pengkajian dan pelajaran agar dapat lebih dipahami tentang sebab-sebab mengapa terjadi berbagai masalah yang dihadapi wanita seperti diskriminasi dan pelecehan, dan apa usaha yang perlu dilakukan untuk mengatasinya. Salah satu pelopor berdirinya kelompok studio wanita di berbagai perguruan tinggi di Indonesia adalah Kelompok Studi Wanita FISIP UI. Pada umumnya, organisasi perempuan tersebut memiliki kegiatan di bidang ekonomi, pendidikan, pembinaan mental dan budaya (keagamaan, ideologi Negara, budi pekerti), bidang kesehatan (penyuluhan KB) dan kesejahteraan sosial (panti asuhan).

Pada masa orde baru ternyata ada semacam jejak trauma atas penghianatan PKI yang berimbas pada jalannya organisasi perempuan. Peristiwa pemberiontakan PKI membawa perubahan besar dan mendasar bagi perkembangan kehidupan masyarakat, termasuk pada gerakanperempuan karena dampaknya adalah tumbuhnya sikap syak wasangka. Selain itu, pada masa orba tak sedikit permasalahan perempuan yang mengemuka seperti kekerasan terhadap perempuan yang mengemuka seperti kekerasan terhadap perempuan akibat pelaksanaan DOM di Aceh, kasus Marsinah, kurangnya perlindungan TKW.

  1. Periode Reformasi (1998- Sekarang)

Periode yang ditandai dengan lengsernya mantan Perisiden Soeharto memang mencuat harapan besar bagi tumbuhnya proses demokrasi di indonesia. Demokrasi ini diharapakan menjadi “atmosfer” dalam perkembangan organisasi perempuan. Dalam perjalananya organisasi perempuan semakin beragam dan spesifik, baik di tingkat nasional, regional, hingga yang bergerak di tingkat lokal.

Pemberlakuan UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU no. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah sejak 1 Januari 2001 lalu tak dapat disangka merupakan harapan baru bagi daerah untuk lebih leluasa dalam menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata tumbuh, hidup dan berkembang di daerah.

Dibalik adanya harapan itu ternyata ada hal yang perlu diantisipasi terutama tentang upaya keberpihakan pada perempuan. Bagaimanapun kita yakin bahwa gerakan perempuan yang muncul dalam berbagai wadah organisasi mempunyai pesan strategis dan fungsional dalam upaya pemberdayaan perempuan, kususnya dalam penyiapan kaum perempuan untuk terlibat secara aktif dalam pembangunan.